Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Trump Makin Tertekan-PBB Tanggapi Nuklir Arab yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali berada di titik nadir setelah gencatan senjata yang rapuh terancam kolaps dalam hitungan hari. Presiden AS Donald Trump melemparkan ancaman keras untuk meluncurkan serangan militer baru yang masif ke wilayah Iran jika kesepakatan damai urung tercapai. Di sisi lain, pihak militer Teheran tidak tinggal diam dan bersiap membalas dengan membuka berbagai front pertempuran baru yang mematikan.
Mengutip laporan dari Agence France-Presse (AFP) pada Selasa (20/05/2026), perang yang meletus sejak 28 Februari tersebut kini memasuki fase krusial setelah berjalannya gencatan senjata sejak 8 April lalu. Hubungan kedua negara semakin memanas seiring dengan batas waktu negosiasi yang semakin sempit. Konflik ini juga kian kompleks dengan melibatkan eskalasi di Lebanon serta serangan strategis yang menyasar fasilitas nuklir di Uni Emirat Arab (UEA).
Berikut adalah 11 poin update krusial terkait perkembangan terkini Perang AS-Iran:
Trump Beri Tenggat Waktu Dua Hari
Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya hampir saja meluncurkan kembali serangan udara ke Iran, namun membatalkan perintah tersebut hanya satu jam sebelum eksekusi demi memberi ruang bagi jalur diplomasi. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa kesabaran Washington ada batasnya dan memberikan tenggat waktu yang sangat singkat bagi Teheran untuk menyepakati perjanjian damai. Jika kesepakatan gagal diraih, AS siap menghujamkan serangan susulan yang jauh lebih besar.
“Saya katakan dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, sesuatu, mungkin awal pekan depan, jangka waktu yang terbatas,” kata Trump kepada para wartawan di Gedung Putih pada Selasa.
“Anda tahu bagaimana rasanya bernegosiasi dengan negara di mana Anda mengalahkan mereka dengan telak. Mereka datang ke meja perundingan, mereka mengemis untuk membuat kesepakatan. Saya berharap kita tidak harus melakukan perang, tetapi kita mungkin harus memberi mereka pukulan besar lainnya. Saya belum yakin,” lanjut Trump.
Iran Siap Buka Front Baru
Menanggapi ancaman tersebut, militer Iran langsung merespons dengan peringatan yang tidak kalah mengerikan. Pihak Teheran menolak klaim posisi tawar Trump dan menegaskan bahwa masa gencatan senjata justru digunakan oleh mereka untuk menyusun kekuatan baru. Iran juga memanfaatkan kendali penuh atas Selat Hormuz sebagai posisi tawar untuk mencekik pasokan minyak global demi menekan perekonomian AS.
“Jika musuh cukup bodoh untuk jatuh ke dalam perangkap Zionis lagi dan meluncurkan agresi baru terhadap Iran yang kami cintai, kami akan membuka front baru melawannya, dengan peralatan baru dan metode baru,” ujar Juru Bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akraminia kepada kantor berita ISNA.
“Militer Iran telah menggunakan gencatan senjata sebagai kesempatan untuk memperkuat kemampuan tempurnya,” tambah Akraminia.
AS Berada dalam Status Siaga
Wakil Presiden AS JD Vance, yang menjadi sosok sentral dalam negosiasi yang sempat gagal di Pakistan, menyatakan bahwa militer AS kini berada dalam status siaga penuh dan siap tempur. Walaupun bersikap skeptis terhadap perang yang tidak populer di mata publik AS ini, ia menyebut bahwa saluran komunikasi masih diupayakan semaksimal mungkin untuk menghindari konfrontasi bersenjata.
“Banyak kemajuan baik yang sedang dibuat, tetapi kami akan terus mengupayakannya, dan pada akhirnya kami akan mencapai kesepakatan atau tidak sama sekali,” kata Vance kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa.
Status siaga ini sejalan dengan pernyataan JD Vance sebelumnya yang menegaskan bahwa posisi militer Amerika Serikat saat ini sudah locked and loaded alias terkunci dan siap meledak kapan saja jika Iran melanggar komitmen atau menolak berunding.
Tekanan Domestik Menanti Trump
Di koridor politik domestik, Donald Trump menghadapi tekanan berat terkait keberlanjutan perang ini yang telah memperlemah tingkat popularitasnya menjelang pemilihan anggota kongres pada November mendatang. Di tengah situasi ekonomi yang lesu, warga AS mulai frustrasi karena harus membayar biaya hidup yang melonjak, termasuk untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka.
Melihat situasi tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memberikan sindiran tajam melalui akun X resminya mengenai retorika yang dikeluarkan oleh sang Presiden AS. Ia menilai Trump sengaja memutarbalikkan fakta demi menutupi kepanikan politiknya di dalam negeri.
“Komentar Trump berarti pemimpin AS tersebut menyebut sebuah ‘ancaman’ sebagai ‘kesempatan untuk perdamaian’!” tulis Gharibabadi.
Senat AS Jegal Wewenang Perang
Eskalasi di Timur Tengah yang berlarut-larut juga memicu keretakan politik di Washington, di mana Senat AS mengambil langkah simbolis namun kuat untuk membatasi kekuasaan Trump dalam mengobarkan perang. Resolusi ini berhasil melewati pemungutan suara prosedural penting untuk pertama kalinya sejak perang pecah 11 minggu lalu, yang mencerminkan kekhawatiran mendalam atas biaya konflik yang sejauh ini telah membengkak melampaui US$ 30 miliar (Rp 531 triliun).
“Presiden ini seperti balita yang bermain dengan pistol berpeluru,” ujar Pemimpin Minoritas Senat dari Fraksi Demokrat Chuck Schumer menjelang pemungutan suara pada Selasa.
“Jika ada waktu untuk mendukung resolusi kekuatan perang kita guna menarik pasukan dari permusuhan dengan Iran, saatnya adalah sekarang,” tegas Schumer.
DK PBB Kutuk Serangan Nuklir
Sementara itu, tensi regional semakin membara setelah sebuah pesawat tanpa awak (drone) menghantam generator listrik di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah milik Uni Emirat Arab (UEA) di Abu Dhabi pada hari Minggu. Abu Dhabi menyatakan bahwa serangan berbahaya tersebut berasal dari wilayah Irak, tempat kelompok-kelompok pro-Iran aktif beroperasi selama perang berlangsung.
Dewan Keamanan PBB (DK PBB) langsung menggelar sidang pada Selasa untuk mengutuk keras serangan tersebut. Bahkan, Rusia yang selama ini dikenal sering membela kepentingan diplomatik Iran, memilih untuk bergabung dengan anggota dewan lainnya dalam mengecam insiden tersebut.
“Attacks targeting peaceful nuclear facilities in any country of the world…are categorically unacceptable (Serangan yang menargetkan fasilitas nuklir damai di negara mana pun di dunia… sama sekali tidak dapat diterima),” kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzya.
Israel Hujani Lebanon dengan Bom
Di front pertempuran sekunder, ketegangan meluas ke Lebanon setelah militer Israel meluncurkan gelombang serangan udara baru yang masif di wilayah selatan. Serangan ini dilakukan sebagai balasan atas aksi kelompok militan Syiah Hezbollah yang didukung penuh oleh Iran. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 19 orang tewas akibat pemboman pada hari Selasa tersebut.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di kota Deir Qanun al-Nahr di distrik Tyre, yang merenggut nyawa 10 orang termasuk tiga anak-anak dan tiga wanita. Di sisi lain, pihak militer Israel mengklaim berhasil mengintersepsi sebuah drone kiriman militer Lebanon yang mencoba menyusup ke wilayah udaranya.
Meskipun pemerintah pusat Lebanon dan Israel telah dua kali memperpanjang gencatan senjata yang dimediasi oleh AS, pihak Tel Aviv menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata tersebut sama sekali tidak berlaku untuk operasi militer mereka terhadap Hezbollah.
Iran Bebaskan Tahanan AS
Di tengah kebuntuan militer, sebuah sinyal kemajuan diplomatik yang langka muncul setelah Teheran membebaskan seorang warga negara Iran yang memegang status residen tetap di Amerika Serikat. Pembebasan ini dikonfirmasi oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) hak asasi manusia pada hari Selasa.
“Shahab Dalili, seorang warga negara Iran dan residen tetap AS yang telah dipenjara di Penjara Evin, dibebaskan setelah menjalani hukuman 10 tahun penjara. Setelah dibebaskan, ia kembali ke Amerika Serikat,” demikian pernyataan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA).
Shahab Dalili sebelumnya dijatuhi hukuman setelah dinyatakan bersalah oleh pengadilan Iran atas tuduhan bekerja sama dengan pemerintah asing yang bermusuhan dengan Teheran.
Investigasi Tragedi Sekolah Berdarah
Terkait akuntabilitas militer, komandan tertinggi pasukan AS di Timur Tengah menolak untuk bertanggung jawab secara langsung atas serangan udara hari pertama perang yang menghancurkan sebuah sekolah di Iran dan menewaskan 155 orang. Hingga kini, Komando Sentral AS (CENTCOM) berdalih bahwa proses investigasi mendalam masih berjalan dan memakan waktu lama.
“Sekolah itu sendiri terletak di pangkalan rudal jelajah IRGC (Korps Pengawal Revolusi Islam Iran) yang aktif,” kilah Laksamana Brad Cooper selaku Komandan CENTCOM di hadapan panel pengawas Kongres pada Selasa.
“Hal ini membuat penyelidikan menjadi jauh lebih kompleks daripada serangan rata-rata pada umumnya,” tambah Cooper untuk membela diri dari tuduhan kejahatan perang.
Uni Eropa Kucurkan Subsidi Pupuk
Dampak dari berkecamuknya perang di Timur Tengah ini juga menjalar hingga ke sektor agraris di benua Eropa. Blok Uni Eropa (UE) mengumumkan akan segera menyalurkan bantuan finansial darurat dalam skala besar bagi para petani di negaranya yang tercekik oleh lonjakan ekstrem harga pupuk akibat disrupsi rantai pasok global yang dipicu oleh konflik AS-Iran.
“Brussel akan memberikan dukungan luar biasa kepada para petani yang terdampak oleh melonjaknya biaya pupuk yang disebabkan oleh perang Iran,” ujar Komisaris Pertanian Uni Eropa Christophe Hansen di hadapan Parlemen Eropa pada Selasa.
Hansen menambahkan bahwa Uni Eropa kini tengah bergerak cepat untuk mendongkrak dana cadangan krisis pertanian dalam jumlah yang sangat signifikan agar stabilitas pangan di Eropa tetap terjaga.
G7 Amankan Stabilitas Ekonomi
Pada saat yang sama, para menteri keuangan dari kelompok negara G7 menggelar pertemuan darurat di Paris, Prancis pada Selasa untuk memitigasi risiko guncangan global terhadap stabilitas ekonomi akibat perang yang terus berlarut-larut. Pertemuan tersebut diwarnai perdebatan yang sengit menyusul adanya ketegangan internal antara kubu AS dan sekutu baratnya mengenai strategi penanganan konflik.
“Kami telah menjalani diskusi yang jujur, terkadang sulit, dan langsung untuk menemukan solusi jangka panjang dan jangka pendek terhadap tantangan ekonomi global utama,” ungkap Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure.
Lescure menekankan bahwa koordinasi multilateral yang kuat mutlak diperlukan saat ini demi menjamin stabilitas ekonomi dunia yang kian rapuh akibat perang AS-Iran.
(tps/tps)
Add
as a preferred
source on Google




