Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Pemerintah Disebut Rusak Demokrasi, Pakai Taktik Kasar-Bungkam Oposisi yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan disebut merusak demokrasi Turki. Bahkan rezimnya disebut telah menggunakan “taktik kasar” dan membungkam oposisi.
Hal ini terjadi setelah ratusan polisi menggerebek markas besar partai oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) di Ankara pada hari Minggu. Ratusan polisi menerobos masuk, menggunakan gas air mata.
Insiden ini terjadi setelah pengadilan memecat kepemimpinan CHP pada Kamis lalu. Perintah pengadilan membatalkan kemenangan Ketua CHP Ozgur Ozel dalam pemilihan partai tahun 2023 dan menunjuk mantan ketuanya Kemal Kilicdaroglu, sosok yang kurang berprestasi dan mencatat serangkaian kekalahan dalam pemilihan, sebagai pemimpin sementara.
Polisi anti huru hara Turki menembakkan gas air mata dan menerobos barikade untuk memasuki markas besar Partai Rakyat Republik (CHP), Minggu (24/5/2026).Â
|
Anggota partai sebelumnya memblokir pintu masuk gedung, menentang perintah pengadilan yang dikeluarkan. Tahun lalu, otoritas Turki juga memenjarakan saingan politik utama Erdogan, wali kota Istanbul Ekrem Imamoglu, yang merupakan kandidat CHP untuk pemilihan presiden yang akan diadakan pada tahun 2028.
“Pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan merusak demokrasi Turki dengan “aktik kasar terhadap CHP,” kata sebuah LSM hak asasi manusia terkemuka, Human Rights Watch, dikutip AFP, Senin (25/5/2026).
” Ini pukulan telak terbaru yang sangat merusak bagi supremasi hukum, demokrasi, dan hak asasi manusia di Turki,” tambahnya.
Ozel sendiri berteriak saat dipaksa keluar gedung. Ia berjanji akan melawan.
“Partai Rakyat Republik mulai sekarang akan berada di jalanan atau di alun-alun,” katanya masih dimuat laman yang sama.
“Kita akan berbaris menuju pusat kekuasaan,” tegasnya.
Para pendukung Kilicdaroglu sendiri juga mencoba menerobos masuk ke gedung partai itu. Tahun lalu, adegan serupa terjadi di Istanbul, ketika pengadilan menunjuk seorang administrator untuk mengambil alih kantor regional CHP.
Investor Kabur-Mata Uang Jeblok
Sementara itu, kejadian ini membuat investor ketar-ketir. Roger Mark, analis pasar negara berkembang dari Ninety One, mengatakan risiko terbesar saat ini adalah masyarakat dan investor lokal berbondong-bondong meninggalkan lira dan beralih ke mata uang asing.
“Risiko utamanya adalah dolarisasi domestik,” ujar Mark, merujuk pada potensi aksi jual besar-besaran lira.
Polisi anti huru hara Turki menembakkan gas air mata dan menerobos barikade untuk memasuki markas besar Partai Rakyat Republik (CHP), Minggu (24/5/2026).Â
|
Meski demikian, ia menilai arus keluar modal kali ini belum separah tahun lalu karena intervensi bank sentral yang lebih agresif serta posisi investor asing yang sudah lebih rendah di pasar Turki. Meski begitu pemerintah Erdogan dianggap makin otoriter.
(sef/sef)
Add
as a preferred
source on Google





