Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Membaca Arah Rupiah di Tengah Pencarian Maestro Baru BI yang sedang hangat diperbincangkan.
Presiden Prabowo Subianto belum kunjung mengajukan nama calon gubernur Bank Indonesia (BI) setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Di tengah masa transisi ini, rupiah masih bergerak di kisaran Rp18 ribu per dolar AS tanpa menunjukkan gejolak yang berlebihan.
Pada perdagangan Rabu (29/7), rupiah ditutup menguat tipis 10 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp18.073 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah nama mulai dikaitkan dengan kursi Gubernur BI, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Namun, Purbaya sendiri menegaskan akan mengikuti keputusan Prabowo terkait siapa yang akan diajukan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai rupiah saat ini belum bisa dikatakan menguat, tetapi juga belum memasuki fase pelemahan yang tidak terkendali.
Menurut dia, kondisi saat ini lebih tepat disebut sebagai keseimbangan yang lemah. Bank sentral masih mampu menjaga stabilitas pasar, tetapi investor meminta premi risiko lebih tinggi akibat kombinasi tekanan global dan ketidakpastian kepemimpinan di bank sentral.
Per 29 Juli 2026, rupiah disebut melemah sekitar 7,6 persen sejak awal tahun.
Pelemahan tersebut bukan semata-mata dipicu pengunduran diri Perry Warjiyo. Pasar juga tengah menghadapi risiko kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), harga minyak yang kembali meningkat, konflik Timur Tengah, serta ketidakpastian arus modal global.
Menurut Josua, selama masa awal pencarian Gubernur BI yang baru, rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS.
“Skenario utama saya adalah rupiah bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.250 per dolar AS selama masa awal pencarian Gubernur baru,” ujar Josua kepada CNNIndonesia.com pada Rabu ini.
Apabila pemerintah segera mengumumkan calon gubernur BI yang berpengalaman, independen, dan diterima pasar, serta bank sentral Amerika Serikat tidak menaikkan suku bunga, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Sebaliknya, menurut Josua, rupiah berisiko bergerak ke atas Rp18.300 apabila pemilihan berlarut-larut, calon yang muncul menimbulkan keraguan terhadap independensi BI, atau tekanan global kembali membesar.
Josua sendiri menilai pasar masih memberikan toleransi ketidakpastian selama dua hingga enam pekan ke depan. Kendati, menurut Josua, pasar sebenarnya tidak harus menunggu sampai gubernur BI definitif dilantik untuk kembali tenang.
Kejelasan jadwal pemilihan, kriteria calon, dan arah kebijakan yang akan dijaga BI sudah cukup untuk mengurangi premi risiko yang saat ini membebani rupiah.
“Namun, pemulihan kepercayaan secara penuh kemungkinan memerlukan satu hingga tiga bulan, mencakup proses pengajuan calon oleh Presiden, persetujuan DPR, pengangkatan, serta komunikasi kebijakan pertama dari Gubernur baru,” ujar Josua.
[Gambas:Youtube]
Ia memperingatkan ketidakpastian bisa menjadi lebih serius apabila proses pemilihan melampaui dua hingga tiga bulan tanpa kejelasan.
Dalam kondisi seperti itu, pasar berpotensi menafsirkan keterlambatan bukan lagi sebagai persoalan administratif, melainkan sinyal adanya tarik-menarik kepentingan terkait arah arah suku bunga dan independensi BI.
Meski demikian, Josua menegaskan kondisi rupiah saat ini belum mengarah pada krisis.
Pasalnya, perdagangan masih berjalan, likuiditas valuta asing tetap tersedia, dan belum terjadi penjualan besar-besaran pada seluruh aset Indonesia.
Investor asing memang mencatatkan arus keluar dari pasar saham sekitar US$4,66 miliar sepanjang 2026. Namun, pada saat yang sama mereka masih mencatatkan arus masuk ke pasar obligasi sebesar US$0,63 miliar dan SRBI sebesar US$9,72 miliar.
Secara keseluruhan, investasi portofolio masih mencatatkan arus masuk bersih sebesar US$5,69 miliar.
Kepemilikan asing atas SBN juga meningkat dari sekitar Rp879 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp891 triliun per 24 Juli 2026.
“Ini menunjukkan investor belum meninggalkan Indonesia secara menyeluruh, tetapi memindahkan dananya ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi,” ujar Josua.
Indonesia juga masih memiliki cadangan devisa sebesar US$145,6 miliar atau setara 5,5 bulan impor serta inflasi inti yang terkendali di level 2,76 persen.
Level Aman Rupiah
Menurut Josua, level aman rupiah saat ini berada di rentang Rp17.800 hingga Rp18.250 per dolar AS.
Level Rp17.700 hingga Rp17.800 merupakan wilayah pemulihan, sedangkan Rp18.200 hingga Rp18.250 merupakan wilayah peringatan yang mulai perlu diwaspadai.
Penembusan Rp18.250 belum otomatis menandakan keadaan darurat. Namun, perhatian perlu meningkat apabila rupiah bertahan di atas level tersebut selama tiga hingga lima hari perdagangan dan disertai arus keluar modal yang meluas.
“Hal yang lebih penting adalah kecepatan pelemahan, lamanya kurs bertahan di atas level tersebut, serta apakah pelemahan disertai penjualan asing pada SBN dan SRBI,” ujar Josua.
Josua menilai kondisi pasar akan menjadi jauh lebih berat apabila rupiah menembus Rp18.500 per dolar AS disertai penurunan cadangan devisa dan kenaikan tajam imbal hasil SBN.
Jika skenario tersebut terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan pasar keuangan.
Biaya impor bahan baku, pangan, energi, mesin, hingga obat-obatan akan meningkat. Perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS tetapi pendapatan dalam rupiah juga akan menghadapi beban pembayaran yang lebih besar.
Pemerintah berpotensi menghadapi kenaikan subsidi dan kompensasi energi, sedangkan investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi untuk membeli surat utang negara.
Pada akhirnya, biaya kredit dapat meningkat dan aktivitas konsumsi maupun investasi berisiko melambat.
“Risiko terbesar bukan hanya depresiasi rupiah, melainkan terbentuknya lingkaran antara pelemahan kurs, kenaikan inflasi, arus modal keluar, dan kenaikan suku bunga,” ujar Josua.
Bersambung ke halaman berikutnya…
Add
as a preferred
source on Google




