Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Militer Israel Tiba-Tiba Tutup Akses Desa Kristen Palestina, Ada Apa? yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Militer Israel (IDF) menutup akses ke desa Taybeh di Tepi Barat bagi seluruh non-penduduk setempat. Langkah tersebut disebut sebagai upaya untuk mencegah meningkatnya serangan terhadap warga Palestina yang dilakukan oleh pemukim Israel di berbagai wilayah Tepi Barat.
Dalam pernyataannya, militer Israel mengatakan bahwa perintah penutupan itu hanya berlaku bagi warga Israel dan tidak ditujukan kepada warga Palestina. Seorang juru bicara militer menyebut keputusan menjadikan Taybeh sebagai zona militer tertutup diambil karena meningkatnya insiden kekerasan yang melibatkan warga Israel di kawasan tersebut.
“Karena adanya beberapa serangan kekerasan yang dilakukan oleh warga Israel di wilayah tersebut,” kata juru bicara militer Israel menjelaskan alasan penetapan status zona militer tertutup bagi Taybeh, dilansir Reuters.
IDF juga menyatakan akan mengambil tindakan terhadap setiap pelanggaran yang terjadi selama pemberlakuan kebijakan tersebut.
“Setelah menerima laporan mengenai setiap pelanggaran terhadap perintah ini, tentara IDF akan dikerahkan ke lokasi dan bertindak untuk membubarkan kerumunan serta menahan para tersangka guna melindungi warga di wilayah tersebut dan menjaga ketertiban,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.
Taybeh memiliki posisi yang unik di wilayah Tepi Barat. Desa tersebut merupakan salah satu dari sedikit desa Kristen yang masih tersisa di kawasan itu. Tahun lalu, Taybeh dikunjungi oleh Patriark Yunani Ortodoks serta Kardinal Katolik Roma dari Yerusalem.
Selain dikenal sebagai desa Kristen, Taybeh juga menjadi lokasi berdirinya Taybeh Brewing Co, yang secara luas dianggap sebagai pabrik bir mikro tertua di kawasan Timur Tengah.
Sebagian wilayah Taybeh berada di Area B, yakni kawasan yang secara administratif sipil dikelola oleh Otoritas Palestina. Namun, urusan keamanan di wilayah tersebut tetap harus dikoordinasikan dengan otoritas Israel sesuai pengaturan yang berlaku di Tepi Barat.
Penutupan akses terhadap Taybeh juga menyoroti kerentanan komunitas Kristen Palestina yang jumlahnya terus menyusut di wilayah tersebut.
Adapun serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina dalam beberapa tahun terakhir telah memicu reaksi dari sejumlah negara Barat. Beberapa negara bahkan telah menjatuhkan sanksi terhadap kelompok-kelompok pemukim yang terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
Pada Juni lalu, pemukim Israel dilaporkan menghalangi warga Palestina yang berusaha memadamkan kebakaran besar di dekat Taybeh. Informasi itu disampaikan oleh petugas pemadam kebakaran pertahanan sipil Palestina dan seorang pastor setempat.
Pastor tersebut menggambarkan situasi yang terjadi sebagai bagian dari pola intimidasi yang terus berlangsung terhadap warga desa.
Ia menyebut terdapat “pola intimidasi dan kekerasan yang tidak dapat dibenarkan yang terus berlangsung” dan yang menurutnya merusak hak-hak dasar penduduk setempat.
Tekanan terhadap Israel juga datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebuah penyelidikan PBB yang dirilis pada Selasa lalu menyimpulkan bahwa otoritas Israel terlibat secara langsung dalam serangan-serangan pemukim yang telah menyebabkan warga Palestina tewas, terluka, dan mengungsi dari wilayah Tepi Barat.
Laporan tersebut menyatakan bahwa serangan-serangan pemukim telah mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, serta perpindahan penduduk Palestina dari tempat tinggal mereka.
Namun, misi Israel di Jenewa menolak temuan penyelidikan tersebut. Pihak Israel menyatakan bahwa para pejabat tinggi negara, termasuk presiden dan perdana menteri, telah berulang kali mengecam tindakan kekerasan terhadap warga Palestina.
Â
(luc/luc)




