Thursday, July 9, 2026
17.6 C
Indonesia

Ramai Media Asing Sorot Kebakaran TPA Jatiwaringin – Publik Pos Update

Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Ramai Media Asing Sorot Kebakaran TPA Jatiwaringin yang sedang hangat diperbincangkan.




Jakarta, – Kebakaran besar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di pinggiran Jakarta menarik perhatian media internasional yang menyoroti dampak lingkungan dan ancaman kesehatan akibat bencana tersebut.

Dalam laporannya berjudul “A mountain of rubbish in Indonesia has been on fire for more than a week“, BBC melaporkan api telah membakar lebih dari 15 hektare area TPA selama lebih dari sepekan, menyelimuti permukiman sekitar dengan asap tebal beracun.

BBC melaporkan ratusan warga terpaksa dievakuasi ke tempat penampungan sementara akibat memburuknya kualitas udara di sekitar lokasi. Salah satunya adalah Sarmanah (45), warga setempat yang mengaku terpaksa meninggalkan rumah bersama keluarganya karena asap tebal dari kebakaran.

“Asapnya begitu tebal hingga kami tidak bisa melihat siapa pun. Asap itu menusuk hidung, membuat kami batuk, pilek, dan sulit bernapas. Kami terpaksa meninggalkan rumah karena sudah tidak sanggup lagi,” ujarnya.

Media internasional Al Jazeera juga menyoroti kebakaran tersebut melalui unggahan Instagram. Dalam laporannya, Al Jazeera menyebut kebakaran TPA telah memasuki hari ketiga ketika laporan itu diterbitkan.

Helikopter dikerahkan untuk melakukan pengeboman air dari udara, sementara petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan titik-titik api yang masih membara di bawah timbunan sampah. Asap dari kebakaran juga berdampak pada masyarakat sekitar, memicu evakuasi serta meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan warga.

Menurut otoritas Indonesia, sedikitnya 234 warga telah menjalani pemeriksaan kesehatan akibat paparan asap, dengan 72 orang di antaranya didiagnosis menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Djohan Darmawan, menjelaskan proses pemadaman berlangsung sulit karena api tidak membakar di permukaan, melainkan membara di dalam tumpukan sampah.

Aktivis lingkungan menilai kebakaran ini merupakan cerminan dari krisis pengelolaan sampah yang lebih besar di Indonesia. Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Wahyu Eka Styawan, menyebut insiden tersebut sebagai “bencana ekologis akibat kelalaian sistemik”.

Menurutnya, akumulasi gas metana dari pembusukan sampah organik, ditambah praktik pembuangan terbuka (open dumping) yang masih marak, telah mengubah banyak TPA di Indonesia menjadi “bom waktu”.

“Ini adalah bom waktu dari persoalan pengelolaan sampah yang telah bertahun-tahun diabaikan tanpa adanya perbaikan mendasar,” kata Wahyu kepada BBC.

Ia menambahkan, TPA Jatiwaringin hanya mampu menampung sekitar 2.700 ton sampah per hari, atau sekitar 59% dari total produksi sampah harian Kabupaten Tangerang. Hal itu memunculkan pertanyaan mengenai ke mana sisa sampah lainnya dibuang.

Menurut Walhi, kelebihan sampah tersebut akhirnya menumpuk di lokasi-lokasi pembuangan terbuka di sekitar TPA sehingga membentuk gunung-gunung sampah yang berada sangat dekat dengan pemukiman warga. Selain menimbulkan bau menyengat, serangan lalat, dan risiko longsor, kondisi tersebut juga menyebabkan gas metana terperangkap di bawah timbunan sampah. Wahyu mengatakan, percikan api kecil saat cuaca panas saja sudah cukup untuk memicu kebakaran besar.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan akan menyelidiki penyebab kebakaran TPA Jatiwaringin setelah proses pemadaman selesai. Deputi Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Rizal Irawan juga mengungkapkan pemerintah akan mengevaluasi sekitar 390 TPA di seluruh Indonesia pada awal Agustus 2026.

Ia menyebut TPA Jatiwaringin sebelumnya telah dikenai sanksi administratif pada 2025 karena buruknya pengelolaan sampah dan telah diminta menerapkan sistem controlled landfill untuk mengurangi penumpukan gas metana serta risiko kebakaran.

(tfa/luc)



Add


as a preferred

source on Google



Sumber

Sedang Hangat

9 Hari TPA Jatiwaringin Belum Padam, Petugas Doa Bersama dan Salat Minta Hujan

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai 9 Hari...

Kemnaker Prediksi Pendaftar Magang Hub Angkatan 2 Tembus 600 Ribu

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kemnaker Prediksi...

Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete, Polri Sita Uang Rp67,2 M

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Geledah Kafe...

Chaos Pemadaman Listrik Massal di Seluruh Negeri, Warga Turun ke Jalan – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Chaos Pemadaman...

Sosok Ngaku Ahli Waris Hotel Sultan Punya Bukti Dokumen Belanda – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Sosok Ngaku...

Topik Terbaru

9 Hari TPA Jatiwaringin Belum Padam, Petugas Doa Bersama dan Salat Minta Hujan

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai 9 Hari...

Kemnaker Prediksi Pendaftar Magang Hub Angkatan 2 Tembus 600 Ribu

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kemnaker Prediksi...

Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete, Polri Sita Uang Rp67,2 M

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Geledah Kafe...

Chaos Pemadaman Listrik Massal di Seluruh Negeri, Warga Turun ke Jalan – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Chaos Pemadaman...

Sosok Ngaku Ahli Waris Hotel Sultan Punya Bukti Dokumen Belanda – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Sosok Ngaku...

Canda AHY Ungkit Era Demokrat Jadi Oposisi: Nggak Perlu Lagi Kan?

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Canda AHY...

Purbaya Kaji Pencairan JHT Bebas Pajak yang Diusulkan Buruh

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Purbaya Kaji...

Polisi Temukan Brankas Besar saat Geledah Kafe de’Clan di Cipete

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Polisi Temukan...
spot_img

Baca Juga

Popular Categories