Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Pipa Gas Dumai-Sei Mangkei Diusulkan Ubah Rute, Ini Alasannya yang sedang hangat diperbincangkan.
Sei Mangkei, – PT Pertamina Gas (Pertagas) berencana untuk mengalihkan titik koneksi proyek pipa gas transmisi Dumai-Sei Mangkei (Dusem) dari Sei Mangkei ke Belawan. Hal itu utamanya lantaran pertimbangan besaran volume gas yang bisa dialirkan.
Selain mengubah rute penyaluran, Pertagas juga mengusulkan perubahan nama proyek dari Dusem menjadi Pipa Sutri (Sumatra Utara-Riau).
Head of District Medan Stasiun Metering Pertagas KEK Sei Mangkei Irwan Pambudi menjelaskan bahwa titik sambung yang semula direncanakan dari Sei Mangkei dipindahkan ke Belawan untuk memperoleh volume aliran gas yang lebih optimal.
Dia mengatakan bahwa Pertagas telah menyiapkan infrastruktur titik koneksi tersebut melalui jaringan pipa yang sudah ada milik perusahaan yang berada di Belawan.
“Awalnya kan itu singkatannya Dumai-Sei Mangkei (Dusem) ya. Sei Mangkei sebenarnya di sini. Awalnya mau koneksinya dari sini ke Dumai. Nah karena pertimbangan teknis ya, terkait kapasitas yang kalau pakai pipa di sini kapasitasnya kurang. Akhirnya project-nya berubah dari namanya dari Belawan. Jadi nanti koneksinya tetap dari pipanya Pertagas,” ungkap Irwan saat ditemui di Stasiun Metering Pertagas KEK Sei Mangkei, Sumatra Utara, dikutip Kamis (24/9/2026).
Irwan memaparkan bahwa pengalihan jalur menuju Belawan tersebut tetap terhubung dengan jaringan pipa Pertagas dari arah utara dan membentang secara paralel hingga ke Dumai.
“Karena suplainya sama dari utara, nantinya akan connect melalui Belawan. Jadi kami sudah siapkan titik koneksi untuk pipa Dusem tersebut melalui Belawan. Nanti tetap lewat pipa Pertagas. Seperti itu. Belawan tetap ke Dumai,” jelasnya.
Soal usulan perubahan nama proyek, Pertagas menilai sebutan Pipa Sutri lebih tepat karena mencakup dua wilayah provinsi yang dihubungkan, yakni Sumatra Utara dan Riau. Meski demikian, nama proyek secara resmi dan kontraktual saat ini masih menggunakan sebutan proyek Pipa Dusem.
“Tapi wacananya nanti ketika beroperasi mungkin kita akan propose namanya jadi Sutri tadi ya,” kata Irwan.
Pertagas juga mengantisipasi kebutuhan tambahan pasokan gas untuk mendukung keandalan operasional Pipa Sutri maupun Dusem di masa mendatang. Perusahaan siap melakukan rekayasa teknis seperti peningkatan kapasitas kompresor hingga penambahan jaringan pipa.
“Secara teknis itu masih bisa diusahakan untuk menaikkan kapasitas pipa dengan berbagai macam rekayasa ya. Bisa dengan peningkatan kapasitas kompresor kami, peningkatan kapasitas pipa. Itu semua masih bisa dilakukan secara teknis,” tegasnya.
Infrastruktur Pipa Gas Transmisi Sumatra Utara
Berdasarkan data Pertagas, infrastruktur pipa gas transmisi di wilayah Sumatra Utara atau Operation North Sumatra Utara Area (ONSA) dimulai dari wilayah Aceh hingga Sei Mangkei. Kapasitas total penyaluran gas melalui pipa di wilayah Sumut mencapai 200 MMSCFD.
Namun, realisasi saat ini gas yang disalurkan berada di angka 150-170 MMSCFD yang dikirimkan untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), industri, hingga untuk kebutuhan pupuk.
Pasokan gas yang disalurkan di wilayah Sumut berasal dari fasilitas regasifikasi LNG Terminal Arun sebesar 100 MMSCFD yang didatangkan dari Bontang dan Tangguh. Pasokan tersebut dikombinasikan dengan gas sumur lokal Aceh melingkupi PHE, PGE, dan TPI sebesar 28 MMSCFD, serta tambahan pasokan dari Medco Blok A sekitar 30 MMSCFD.
Per tahun 2026, Pertagas mencatat realisasi penyaluran gas paling banyak untuk sektor kelistrikan mencapai 61,6% atau 105,29 MMSCFD, kemudian penyaluran untuk sektor pupuk sebesar 22,1% atau 37,81 MMSCFD, dan sektor industri-Jargas sebesar 16,2% atau 27,75 MMSCFD.
Khusus di KEK Sei Mangkei, gas tercatat disalurkan sekitar 16 MMSCFD untuk 7 industri utama yakni SM KEK, Unilever Oleochemical Indonesia, APIG, Evyap Sabun, PT INL, PT AICE, hingga Alliance.
(wia)




