Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Airlangga Respons Santai Ancaman Trump Sanksi Importir Minyak Rusia yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, —
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons santai rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan tarif hingga 100 persen terhadap pembeli minyak Rusia.
Airlangga tak begitu menghiraukan ancaman tersebut karena pembelian minyak dari Rusia oleh Indonesia sudah dilakukan pada waktu atau window yang diperbolehkan.
“Pada waktu itu ada window kapan diperbolehkan, kita masuk dalam window tersebut,” ujarnya ketika ditemui di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (23/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancaman yang dilontarkan Trump ini seiring dengan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) sanksi luas oleh Kongres AS.
Mengutip AFP, para anggota parlemen AS menyetujui paket sanksi baru yang dirancang untuk menekan Rusia terkait perang di Ukraina pada Rabu (16/9). Selain itu, RUU tersebut juga dikirimkan kepada Trump setelah tertunda selama berbulan-bulan.
Dewan Perwakilan Rakyat yang dipimpin Partai Republik mengesahkan aturan ini dengan perbandingan suara 262-159, menyusul persetujuan Senat dengan 86 suara berbanding 11 pada bulan lalu.
Trump menyatakan akan menandatangani undang-undang tersebut. Selain sektor energi dan pertahanan, aturan ini menargetkan Presiden Vladimir Putin, pejabat senior, serta “armada bayangan” kapal tanker Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi Barat.
RUU ini memberikan wewenang kepada Trump untuk memberlakukan tarif hingga 100 persen terhadap pembeli utama minyak dan gas Rusia, termasuk China dan India. Hal ini bertujuan untuk memutus aliran pendapatan yang membiayai perang Moskow.
Indonesia sendiri baru saja mengimpor minyak mentah (crude) dari Rusia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap tahap pertama importasi tersebut telah berjalan.
Meski begitu, Bahlil tidak membeberkan secara rinci mengenai volume minyak yang telah diimpor tersebut.
Selain itu, Bahlil menyampaikan tahap kedua sedang berjalan dan pihaknya akan membuat kontrak jangka panjang impor dari Rusia tersebut.
Impor minyak mentah dari Rusia dilakukan melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G). Nantinya, ini akan digunakan sebagai cadangan energi nasional.
Indonesia mendapatkan jatah impor minyak mentah sebanyak 150 juta barel dari Rusia. Ini merupakan hasil dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Moskow beberapa waktu lalu.
(dhz/sfr)




