Friday, August 28, 2026
26.1 C
Indonesia

RI dkk Waspada! Ancaman Selat Malaka Muncul Bak Selat Hormuz – Publik Pos Update

Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai RI dkk Waspada! Ancaman Selat Malaka Muncul Bak Selat Hormuz yang sedang hangat diperbincangkan.




Jakarta, – Kekhawatiran investor energi mulai bergeser dari Timur Tengah ke Asia Tenggara setelah muncul wacana pengenaan pungutan di jalur pelayaran strategis. Setelah Iran mengusulkan skema pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman, pelaku pasar kini mencermati kemungkinan skenario serupa terjadi di Selat Malaka, yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.

Wakil Presiden Pasar Komoditas Rystad Energy, Janiv Shah, mengatakan sebagian investor mulai resah karena pungutan di Selat Hormuz berpotensi menjadi preseden bagi jalur pelayaran strategis lainnya.

“Jika kita melihat potensi pungutan di Selat Hormuz, sesuatu yang serupa dapat diterapkan di tempat lain. Dari sisi volume perdagangan, Selat Malaka menjadi lokasi yang paling penting,” ujarnya, seperti dikutip CNBC International, Rabu (8/7/2026).

Kekhawatiran tersebut muncul setelah Iran dan Oman, yang mengapit Selat Hormuz, dilaporkan mengajukan proposal kepada Amerika Serikat (AS) untuk mengelola bersama koridor maritim tersebut, termasuk memungut biaya administrasi bagi kapal yang melintas.

Dalam nota kesepahaman yang disepakati bulan lalu, kapal-kapal dijamin dapat berlayar dengan aman selama 60 hari, sementara skema pengelolaan jangka panjang akan dibahas lebih lanjut bersama negara-negara Teluk Persia sesuai hukum internasional.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Wacana pengenaan biaya di kawasan tersebut langsung memicu kekhawatiran bahwa model serupa dapat diterapkan di titik-titik pelayaran strategis lain, terutama Selat Malaka.

Menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), Selat Malaka menyumbang sekitar 29% dari total arus perdagangan minyak melalui jalur laut pada paruh pertama 2025. Lebih dari 70% volume yang melintas merupakan minyak mentah, sementara sisanya berupa produk olahan minyak.

Membentang sekitar 900 kilometer, Selat Malaka menjadi jalur laut terpendek yang menghubungkan Asia Timur dengan Timur Tengah dan Eropa. Jalur ini berbatasan langsung dengan Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand sehingga memiliki peran penting bagi perdagangan global.

Meski demikian, Shah menilai penerapan pungutan di Selat Malaka tidak akan mudah dilakukan.

“Bagaimana mekanismenya tentu masih sulit dijelaskan, tetapi jika benar diterapkan, prosesnya kemungkinan akan memakan waktu lama mengingat besarnya volume perdagangan yang melewati jalur tersebut,” katanya.

Sejumlah pakar maritim juga menilai peluang penerapan tarif di Selat Malaka sangat kecil. Direktur Program Asia Tenggara Lowy Institute, Hunter Marston, mengatakan Selat Malaka memang merupakan titik penyempitan (chokepoint) yang strategis, tetapi bukan kawasan konflik.

“Institusi menjadi faktor penting,” ujarnya, merujuk pada kerja sama Malacca Strait Patrol (MSP) yang dijalankan Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand untuk menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut. Menurutnya, mekanisme itu menguntungkan seluruh negara sekaligus menjaga kelancaran perdagangan global.

Pandangan serupa disampaikan analis Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington. Dalam analisis yang diterbitkan 1 Juli, mereka menyebut langkah Iran di Selat Hormuz menunjukkan bahwa penguasaan titik-titik maritim strategis dapat meningkatkan daya tawar suatu negara. Mereka memperingatkan bahwa kekhawatiran kini meluas ke Selat Malaka dan Selat Taiwan, dua jalur pelayaran paling penting di Asia.

“Upaya Iran mengendalikan dan memungut biaya di Selat Hormuz telah menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa negara lain dapat mencoba melakukan hal yang sama terhadap Selat Malaka. Jika salah satu dari dua selat utama tersebut terganggu, memang tersedia rute alternatif, tetapi biayanya akan jauh lebih mahal,” tulis para analis CSIS.

(tfa/tfa)



Add


as a preferred

source on Google



Sumber

Sedang Hangat

Tak Hanya Jadi ‘Raja Nikel’, RI Kini Bidik Industri Chip Global – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Tak Hanya...

Korlantas Latih PPGD ke Ojol Agar Bisa Bantu Korban Kecelakaan

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Korlantas Latih...

Naykilla Bawa Inspirasi Gaya Centyl di Shopee 9.9 Super Shopping Day

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Naykilla Bawa...

RI Bisa Tumbuh 6-7%, Asal Mesin Baru Ini Ngebut – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai RI Bisa...

Resmi! Daftar Harga LPG 3 Kg, 5,5 Kg-12 Kg di RI per 28 Agustus 2026

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Resmi! Daftar...

Topik Terbaru

Tak Hanya Jadi ‘Raja Nikel’, RI Kini Bidik Industri Chip Global – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Tak Hanya...

Korlantas Latih PPGD ke Ojol Agar Bisa Bantu Korban Kecelakaan

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Korlantas Latih...

Naykilla Bawa Inspirasi Gaya Centyl di Shopee 9.9 Super Shopping Day

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Naykilla Bawa...

RI Bisa Tumbuh 6-7%, Asal Mesin Baru Ini Ngebut – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai RI Bisa...

Resmi! Daftar Harga LPG 3 Kg, 5,5 Kg-12 Kg di RI per 28 Agustus 2026

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Resmi! Daftar...

Pemerintah Tak Terlibat Pembekuan Rekening Aktivis Pati

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Pemerintah Tak...

PKB Dorong Hujan Buatan dan Perbanyak Water Bombing untuk Atasi Karhutla

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai PKB Dorong...

Aturan Bagasi Garuda Indonesia Berubah per 1 September, Ini Rinciannya

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Aturan Bagasi...
spot_img

Baca Juga

Popular Categories