Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Tetangga RI Hadapi Krisis, Ekonomi Tumbuh Terendah 5 Tahun yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Ekonomi Filipina mencatat perlambatan tajam pada kuartal II-2026. Produk domestik bruto (PDB) negara tetangga RI itu hanya tumbuh 2,3% secara tahunan pada periode yang berakhir Juni 2026, menjadi pertumbuhan kuartalan terlemah sejak 2021.
Angka tersebut berada di bawah perkiraan median 2,8% dalam jajak pendapat Reuters dan melambat dari pertumbuhan 2,8% pada kuartal sebelumnya. Menteri Perencanaan Ekonomi Filipina Arsenio Balisacan mengatakan hasil tersebut membutuhkan respons pemerintah, meski terdapat sejumlah sinyal positif.
“Meskipun hasil kuartal kedua menuntut langkah-langkah tegas, indikator-indikator terkini memberi kita alasan untuk optimis secara hati-hati bahwa ekonomi mungkin sudah memasuki tahap awal pemulihan,” ujarnya dalam taklimat media, dikutip Jumat (7/8/2025).
Sepanjang enam bulan pertama 2026, ekonomi Filipina hanya tumbuh 2,6%. Capaian ini jauh di bawah target pertumbuhan pemerintah untuk sepanjang tahun yang berada di kisaran 3,5%-4,5%.
Salah satu tekanan terbesar datang dari sektor konstruksi yang anjlok 14,8% pada kuartal II-2026 secara tahunan. Kontraksi ini memburuk dibandingkan penurunan 4,3% pada kuartal sebelumnya dan turut menyeret investasi yang menyusut 9,2%, sekaligus memperpanjang kontraksi investasi menjadi empat kuartal berturut-turut.
Balisacan mengaitkan pelemahan tersebut dengan skandal korupsi yang mencuat tahun lalu terkait proyek pengendalian banjir. Menurut dia, kasus tersebut menghambat belanja pemerintah sekaligus menekan kepercayaan investor, terutama terhadap proyek-proyek infrastruktur.
“Belanja infrastruktur diperkirakan meningkat pada kuartal berjalan,” kata Balisacan.
Pemerintah berharap pengerjaan proyek-proyek baru yang telah disetujui dapat mendorong aktivitas ekonomi. Survei juga menunjukkan adanya perbaikan kepercayaan dunia usaha dan kondisi produksi.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi Filipina ikut melemah. Pertumbuhan belanja rumah tangga turun menjadi 2,8% pada kuartal II dari 3% pada kuartal sebelumnya, tertekan inflasi yang menggerus daya beli.
Inflasi rata-rata mencapai 5% selama tujuh bulan pertama 2026. Angka itu jauh di atas target pemerintah sebesar 3%.
Data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan tersebut akan menjadi pertimbangan Bank Sentral Filipina dalam rapat kebijakan pada 27 Agustus mendatang. Bank sentral sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin dalam dua rapat terakhir untuk menahan inflasi.
Pemerintah pada Juni juga memangkas proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 3,5%-4,5% akibat dampak krisis Timur Tengah dan skandal korupsi. Sementara target pertumbuhan PDB untuk 2027-2030 ditetapkan sebesar 5%-6%.
(sef/sef)




