Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Ambisi Memoles Jakarta hingga Menembus Panggung Kelas Dunia yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, —
Jakarta baru-baru ini dinobatkan sebagai kota ke-15 yang memiliki transportasi publik terbaik dunia menurut warganya, dengan skor 79,2 persen menurut survei majalah perjalanan Time Out, Rabu (14/10).
Survei Time Out dilakukan terhadap 24 ribu responden di berbagai negara pada 2026. Mereka diminta menilai transportasi umum di kota masing-masing menggunakan skala 1 hingga 5, mulai dari “sangat buruk” hingga “sangat baik”. Adapun hasilnya ditentukan dari persentase penilaian warga terhadap layanan transportasi umum di kotanya.
Skor 79,2 persen untuk Jakarta sekaligus mencerminkan penilaian positif akan kondisi transportasi umum di Indonesia. Di mana dari beberapa transportasi umum di ibu kota, MRT Jakarta turut berkontribusi dalam hasil pemeringkatan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir laman resmi perusahaan, berkisar 4,42 juta penumpang menggunakan layanan MRT Jakarta sepanjang September 2026. Angka itu meningkat dibandingkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026 jumlah penumpang MRT mencapai 4,06 juta penumpang.Â
Transportasi Berparas Global
“Naik MRT Jakarta berasa lagi liburan di Luar Negeri,” ujar salah satu penikmat moda transportasi umum Jakarta, Marwah Purnama Sari (35) kepada , Sabtu (17/10).
Transportasi dan lingkungan yang bersih, ditambah suasana yang tertib diakui Marwah sebagai daya tarik utama saat menggunakan MRT Jakarta. Padahal sebelumnya, pengalaman tersebut acap kali ia dapatkan hanya saat menjelajah ke negara lain.Â
Hal senada juga disampaikan karyawan perbankan swasta di kawasan Juanda, Jakarta Pusat, Mohammad Ilham (30).
“Kalau lagi senggang, ya buat nikmatin suasana. Enjoy aja (menggunakan MRT Jakarta),” ungkap pengguna setia MRT itu saat menjawab pertanyaan .
Pria yang akrab disapa Ilham itu mengaku memilih MRT Jakarta saat ingin menikmati ibu kota dari perspective berbeda. Apalagi ia menggadang-gadang MRT Jakarta sebagai transportasi dengan kenyamanan dan ketepatan waktu yang menjanjikan.
“Kalau pas kepepet pilihannya MRT, karena cepat dan terjadwal, jadi enggak buang waktu,” beber Ilham.
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan dari sisi fasilitas, level MRT Jakarta layak untuk disandingkan dengan moda transportasi global.
“Orang Indonesia lebih tertib, bersih, dari sisi fasilitas dibandingkan negara-negara lain, kita enggak kalah. Bahkan kita ada tempat sholat, di negara lain enggak ada yang gitu-gitu (fasilitas),” ujar Djoko saat dihubungi, Sabtu (17/10) sore.
PR Panjang Menanti
Sementara itu, Djoko menyayangkan kondisi transportasi publik Tanah Air yang belum cukup menjawab kebutuhan warga, khususnya Jakarta dan sekitarnya.
Salah satunya, rute MRT Fase 1 yang aktif saat ini baru 15,7 kilometer (km), membentang dari Stasiun Lebak Bulus hingga Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI). Angka tersebut masih jauh dibandingkan jaringan MRT Singapura, dengan total panjang rute 245,2 km dilansir dari laman SGTrains.
Di sisi lain Djoko membeberkan dalam sehari 4 juta orang dari Wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek) masuk ke Jakarta. Dari total tersebut, ia mengungkap baru sepertiga yang dapat dilayani transportasi umum.
Ia merinci, LRT Jabodebek mengangkut sekitar 115 ribu penumpang per hari, Commuter Line (KRL) 1,1 juta penumpang, MRT Jakarta 127 ribu penumpang, dan Trans Jabodetabek 55 ribu penumpang.
Dewan Penasehat MTI itu menekankan adanya kebutuhan untuk menambah kapasitas transportasi umum, seperti penambahan rute Transjabodetabek dan Jabodebatek Residence Connexion (127 kawasan perumahan mewah) di Bodetabek serta mikrotrans di Jakarta. Saat ini sudah beroperasi 18 rute Transjabodetabek. PT Trans Jakarta sudah mengoperasikan 87 rute mikrotrans.
“Kalau itu dilakukan (menambah rute dan kapasitas), harapannya 4 hingga 5 tahun ke depan bisa bertambah sepertiga lagi jumlah penumpang yang bisa dilayani. Indonesia bisa, tinggal jawabannya belum mampu atau belum mau?” ujarnya.
Di sisi lain, Ilham menyayangkan kehadiran transportasi mumpuni seperti MRT baru terealisasi beberapa tahun terakhir. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi dan kemampuan untuk menyajikan transportasi publik yang baik dan layak bagi masyarakat.
“Ada banget (perubahan). Setelah ada MRT, baru sadar ternyata Indonesia bisa juga provide hal kayak gini. Biasanya kita coba di luar (negeri), sekarang di Indonesia. Kenapa enggak dari dulu aja ada ini (MRT),” curhatnya.
Baik Marwah maupun Ilham optimistis kualitas moda transportasi umum Tanah Air, termasuk MRT Jakarta mampu mewakili wajah Indonesia di kancah global.
“Bisa kok, Indonesia punya MRT yang layak di setiap area, yuk bisa yuk!” ungkap Marwah.
Sementara itu, Ilham menilai cara pandangnya terhadap kualitas dan fasilitas transportasi publik Tanah Air berubah sejak kehadiran MRT Jakarta. Ia berhadap, hal itu bisa diadopsi oleh moda transportasi lainnya untuk menjadi lebih baik, modern, khususnya dengan dukungan pemerintah.
Menjawab Tantangan
Melansir Laporan Tahunan Kinerja MRT 2025, jaringan layanan MRT Fase 1 membentang sepanjang 15,7 kilometer (km). Adapun jaringan baru Fase 2A akan melayani rute perjalanan sepanjang 6 km, per Jumat (25/9) pembangunannya telah mencapai 65,1 persen dari target 63,04 persen.
“MRT Jakarta menargetkan penyelesaian segmen satu Bundaran HI-Monas pada akhir 2027 dan segmen dua hingga Kota pada akhir 2029. Kemajuan signifikan pun terlihat pada setiap paket kontrak konstruksi,” tulis perusahaan di laman resminya, Senin (5/10).
Tak sampai di situ, dalam laporan tahunan perusahaan membeberkan rencana jangka panjang untuk memperluas jangkauan layanan. Salah satunya pengembangan jaringan lintas timur hingga barat dengan panjang rute mencapai 84,1 km.
Untuk jaringan lintas timur, MRT Jakarta direncanakan membentang dari Karang Tengah, Tangerang hingga Cikarang, Bekasi.
Rencana perluasan juga dilakukan untuk lintas lingkar luar dengan panjang jalur mencapai 10,9 km. Adapun rute jaringan bakal membentang dari Stasiun Fatmawati hingga Kampung Rambutan.




