Saturday, July 4, 2026
28.1 C
Indonesia

Warga RI Ramai Kumpul Kebo, Wilayah Ini Paling Banyak – Publik Pos Update

Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Warga RI Ramai Kumpul Kebo, Wilayah Ini Paling Banyak yang sedang hangat diperbincangkan.




Jakarta, – Indonesia dihadapkan dengan fenomena pasangan bukan suami istri tinggal bersama atau kumpul kebo. Fenomena kumpul kebo juga terjadi di jejeran Aparatur Sipil Negara (ASN) beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, The Conversation melaporkan fenomena kumpul kebo disebabkan adanya pergeseran pandangan terkait relasi dan pernikahan. Saat ini, tidak sedikit anak muda yang memandang pernikahan adalah hal normatif dengan aturan yang rumit.

Sebagai gantinya, mereka memandang ‘kumpul kebo’ sebagai hubungan yang lebih murni dan bentuk nyata dari cinta. Di wilayah Asia yang menjunjung tinggi budaya, tradisi, serta agama, ‘kumpul kebo’ masih menjadi hal tabu. Kalaupun terjadi, ‘kumpul kebo’ biasanya hanya berlangsung dalam waktu yang singkat dan dinilai sebagai langkah awal menuju pernikahan.

Di Indonesia, studi pada 2021 berjudul The Untold Story of Cohabitation mengungkapkan bahwa ‘kumpul kebo’ lebih banyak terjadi di wilayah bagian Timur yang mayoritas penduduknya non-Muslim.

Menurut peneliti ahli muda dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yulinda Nurul Aini, setidaknya ada tiga alasan mengapa pasangan di Manado yang merupakan lokasi penelitiannya memilih untuk ‘kumpul kebo’ bersama pasangan.

Alasan itu antara lain terkait beban finansial, prosedur perceraian yang terlalu rumit, hingga penerimaan sosial.

“Hasil analisis saya terhadap data dari Pendataan Keluarga 2021 (PK21) milik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 0,6 persen penduduk kota Manado, Sulawesi Utara, melakukan kohabitasi,” ungkap Yulinda beberapa saat lalu.

“Dari total populasi pasangan kohabitasi tersebut, 1,9% di antaranya sedang hamil saat survei dilakukan, 24,3% berusia kurang dari 30 tahun, 83,7% berpendidikan SMA atau lebih rendah, 11,6% tidak bekerja, dan 53,5% lainnya bekerja secara informal,” lanjutnya.

Akibat Kumpul Kebo

Yulinda menyebut, pihak yang paling berdampak secara negatif akibat ‘kumpul kebo’ adalah perempuan dan anak. Dalam konteks ekonomi, tidak ada jaminan keamanan finansial bagi anak dan ibu, seperti yang diatur dalam hukum terkait perceraian. Dalam kohabitasi, ayah tidak memiliki kewajiban hukum untuk memberi dukungan finansial berupa nafkah.

“Ketika pasangan kohabitasi berpisah, tidak ada kerangka regulasi yang mengatur pembagian aset dan finansial, alimentasi, hak waris, penentuan hak asuh anak, dan masalah-masalah lainnya,” terang Yulinda.

Sementara itu dari segi kesehatan, ‘kumpul kebo’ dapat menurunkan kepuasan hidup dan masalah kesehatan mental. Sejumlah penyebab dampak negatif akibat kohabitasi adalah minimnya komitmen dan kepercayaan dengan pasangan dan ketidakpastian tentang masa depan.

Menurut data PK21, sebanyak 69,1% pasangan kohabitasi mengalami konflik dalam bentuk tegur sapa, 0,62% mengalami konflik yang lebih serius seperti pisah ranjang hingga pisah tempat tinggal, dan 0,26% lainnya mengalami konflik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Lalu, anak-anak yang lahir dari hubungan kohabitasi juga cenderung mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, kesehatan, dan emosional.

“Anak dapat mengalami kebingungan identitas dan memiliki perasaan tidak diakui karena adanya stigma dan diskriminasi terhadap status ‘anak haram’, bahkan dari anggota keluarga sendiri,” kata Yulinda.

“Hal ini menyulitkan mereka untuk menempatkan diri dalam struktur keluarga dan masyarakat secara keseluruhan,” ia menjelaskan.

(fsd/fsd)



Add


as a preferred

source on Google



Sumber

Sedang Hangat

Kebakaran TPA Jatiwaringin Sudah 5 Hari, Meluas hingga 15 Hektare

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kebakaran TPA...

Sensus Ekonomi 2026 Rekam Pemberdayaan Perempuan Indonesia

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Sensus Ekonomi...

Bupati Langkat Tahu Hendak di-OTT, Ungkap Kode ‘Situasi Memanas’

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Bupati Langkat...

Polda Metro Tak Masalah Roy Suryo Ajukan Praperadilan Lagi: Kami Siap Hadir

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Polda Metro...

Anugerah Adinata Syariah, Ajang Prestise Ekonomi Syariah Lintas Sektor

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Anugerah Adinata...

Topik Terbaru

Kebakaran TPA Jatiwaringin Sudah 5 Hari, Meluas hingga 15 Hektare

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kebakaran TPA...

Sensus Ekonomi 2026 Rekam Pemberdayaan Perempuan Indonesia

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Sensus Ekonomi...

Bupati Langkat Tahu Hendak di-OTT, Ungkap Kode ‘Situasi Memanas’

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Bupati Langkat...

Polda Metro Tak Masalah Roy Suryo Ajukan Praperadilan Lagi: Kami Siap Hadir

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Polda Metro...

Anugerah Adinata Syariah, Ajang Prestise Ekonomi Syariah Lintas Sektor

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Anugerah Adinata...

Usai Beruang Lumpuhkan Kota, Jepang Gelar Simulasi Darurat – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Usai Beruang...

Satpam hingga Admin Jadi Tersangka Baru Kasus Daycare Little Aresha

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Satpam hingga...

China Mendadak Bangun Hong Kong Baru di Dekat RI Bernilai Rp2.000 T – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai China Mendadak...
spot_img

Baca Juga

Popular Categories