Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Breaking News! Tak Takut Dengan Trump, Presiden Iran Tiba di New York yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Harapan untuk menghentikan perang dan memulihkan perdamaian global kini menjadi sorotan utama dunia. Membawa misi krusial tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah resmi tiba di New York, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (22/09/2026) untuk menghadiri dan berpidato di sesi ke-81 Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Mengutip media Iran, WANA Agency, Rabu (23/09/2026), kedatangan Pezeshkian di Bandara Internasional John F. Kennedy langsung disambut oleh Duta Besar sekaligus Kuasa Usaha Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, beserta sejumlah diplomat Iran. Penerbangan kepresidenan itu melanjutkan perjalanannya ke AS pada Selasa sore setelah sebelumnya melakukan pemberhentian singkat untuk mengisi bahan bakar di Aljazair.
Kehadiran Pezeshkian ini menyusul delegasi Kementerian Luar Negeri Iran yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Seyyed Abbas Araghchi, yang telah tiba lebih dulu di New York pada hari Senin. Araghchi bahkan langsung bergerak cepat dengan menggelar serangkaian pertemuan bilateral bersama rekan-rekan sejawatnya dan para pejabat internasional sejak Selasa pagi.
Selama kunjungannya yang krusial ini, Pezeshkian dijadwalkan untuk menyampaikan posisi resmi Iran di Majelis Umum dan mengadakan pertemuan strategis dengan sejumlah kepala negara serta pejabat senior yang hadir. Ia juga diagendakan untuk bertemu dengan para akademisi dan profesional Iran yang berdomisili di AS, serta dengan para ahli dan wadah pemikir (think tank) Amerika.
Bayang-bayang Ancaman Trump
Kedatangan Pezeshkian ini juga terjadi saat Presiden AS Donald Trump telah melontarkan ancaman keras ke Iran. Ini dilontarkan setelah delegasi kedua negara menggelar pertemuan krusial selama tiga jam.
Trump awalnya menyampaikan kepada wartawan bahwa pejabat AS telah mengadakan pertemuan “sangat baik” dengan delegasi Iran pada hari Selasa. Ia kemudian mengklarifikasi bahwa utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, sejatinya bertemu dengan para mediator, bukan dengan pejabat Iran secara langsung.
“Steve dan Jared melakukan pertemuan yang sangat produktif hari ini dengan para mediator Iran, hanya mediator,” paparnya.
Menyusul jalinan komunikasi rahasia tersebut, Trump menggunakan pidato utamanya di Sidang Majelis Umum PBB untuk membela perangnya. Ia berargumen telah mencegah Teheran mendapatkan senjata nuklir dan mendesak sekutu global mengisolasi Iran secara ekonomi. Ia turut meramalkan bahwa kesepakatan damai baru akan tercapai usai pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
“Saya memiliki keputusan besar untuk dibuat. Apakah akan ada kesepakatan dengan Iran yang membiarkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat dari sebelumnya?” tuturnya.
“Atau apakah saya memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang-orang dan negara-negara lagi?”
(tps/tps)



