Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Bom Mobil Meledak, Kepala Intelijen Militer Tewas yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Kepala Departemen Intelijen Militer pasukan Libya timur, Mayor Jenderal Fawzi al-Mansouri, tewas dalam serangan bom mobil di Benghazi pada Senin (10/8/2026) waktu setempat.
Melansir Reuters, seorang pejabat keamanan Libya mengatakan Mansouri tewas setelah bom rakitan (IED) yang dipasang di bawah kendaraannya meledak saat ia hendak masuk ke mobil di depan rumahnya di kawasan al-Sayyida Aisha, Benghazi timur. Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim itu menyebut serangan tersebut sebagai “serangan teroris.”
Menurut pejabat tersebut, ledakan sengaja menargetkan Mansouri. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang Libya mengenai pembunuhan kepala intelijen militer pasukan timur tersebut maupun pihak yang berada di balik serangan.
Mansouri merupakan pejabat senior dalam struktur militer yang dipimpin Khalifa Haftar, tokoh kuat yang menguasai sebagian besar wilayah Libya timur dan selatan. Ia sebelumnya menjabat sebagai komandan Zona Militer Sabha sejak 3 Agustus 2021.
Haftar kemudian menunjuk Mansouri sebagai kepala Departemen Intelijen Militer pada 20 Mei 2024. Posisi tersebut membuatnya menjadi salah satu pejabat penting dalam struktur keamanan pasukan Libya timur.
Pembunuhan Mansouri terjadi ketika Libya masih terbelah antara dua pemerintahan yang bersaing. Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) yang diakui secara internasional dan dipimpin Abdul Hamid Dbeibeh berkedudukan di Tripoli serta menguasai wilayah barat.
Sementara itu, wilayah timur dan sebagian besar selatan Libya berada di bawah pemerintahan yang ditunjuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan kini dipimpin Osama Hammad dengan basis pemerintahan di Benghazi.
Perpecahan politik tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan berakar pada konflik yang muncul setelah penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011. Situasi itu juga membuat Libya menghadapi persoalan keamanan serta persaingan kekuasaan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL) selama ini berupaya mendorong proses politik yang dapat membuka jalan menuju pemilihan umum. Pemilu tersebut diharapkan mampu mengakhiri dualisme pemerintahan dan konflik bersenjata yang masih membayangi Libya.
(tfa/luc)




