Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Jakarta-Jawa Siaga Megathrust-Tsunami? BMKG & Pakar Kasih Penjelasan yang sedang hangat diperbincangkan.
Daftar Isi
Jakarta, – Seorang pria yang dikenal jagad maya sebagai ahli meteorologi amatir menyebut gempa dahsyat bakal menghantam Indonesia sebelum akhir tahun 2026. Dikatakan, gempa itu berpotensi berkekuatan M7,0-9,0.
Dalam tayangan di kanal Youtubenya, sosok asal Kanada bernama Frankie MacDonald itu mengingatkan warga RI di Jawa dan Jakarta harus bersiap menghadapi gempa besar yang akan memicu kerusakan massif.
“Ramalan” MacDonald itu pun sontak memicu kehebohan. Apalagi, prediksinya dikaitkan dengan gempa yang terjadi di Indonesia dan pernah dia singgung.
Saat MacDonald spesifik mengingatkan Jawa dan Jakarta, perhatian tertuju pada potensi megathrust yang mengepung Jawa, termasuk Jakarta.
Apa hubungannya?
Seperti diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta para pakar pun telah berulangkali menyoroti potensi megathrust yang ada lokasinya ada di sepanjang batas barat pulau Sumatra dan di Selat Sunda.
Sebagai informasi, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024 mencatat ada 14 zona megathrust yang tersebar di Indonesia, yaitu:
1. Zona Megathrust Aceh-Andaman berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 9,2
2. Zona Megathrust Nias-Simelue berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,7
3. Zona Megathrust Batu berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 7,8
4. Zona Megathrust Mentawai-Siberut berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9
4. Zona Megathrust Mentawai-Pagai berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9
6. Zona Megathrust Enggano berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9
7. Zona Megathrust Jawa berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 9,1
8. Zona Megathrust Jawa bagian barat berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9
9. Zona Megathrust Jawa bagian timur berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9
10. Zona Megathrust Sumba berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9
11. Zona Megathrust Sulawesi Utara berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,5
12. Zona Megathrust Palung Cotobato berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,3
13. Zona Megathrust Filipina Selatan berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,2
14. Zona Megathrust Filipina Tengah berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,1.
Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut menjadi perhatian karena kedua segmen ini disebut-sebut belum melepaskan energinya selama ratusan tahun. Kondisi ini disebut sebagai seismic gap. Karena itu, muncul kesiapsiagaan, megathrust oleh kedua segmen ini tinggal tunggu waktu, namun tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi.
“Seismic Gap adalah zona sumber gempa aktif yang belum terjadi gempa besar dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun terakhir. Diyakini, sedang dalam proses akumulasi energi gempa,” kata Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono kepada , dikutip Selasa (8/9/2026).
“Wilayah Selatan Banten dan Selat Sunda mengalami kekosongan gempa besar (seismic gap) sejak tahun 1757 (269 tahun). Sedangkan, wilayah Mentawai dan Siberut mengalami kekosongan gempa besar sejak tahun 1797 (229 tahun),” tambahnya.
Menurut Daryono, zona megathrust Selat Sunda paling potensil berdampak ke wilayah Jakarta-Jawa Barat.
Lalu, apakah megathrust ini dapat memicu tsunami?
Tsunami yang dipicu gempa megathrust tergantung pada kekuatan dan kondisi saat gempa terjadi.
Dalam perhitungan model, potensi tsunami yang disebabkan megathrust ini bisa memicu gelombang di atas 3 meter. Ini adalah tinggi gelombang saat tsunami tiba di pantai/ pesisir.
“Kalau pesisir landai, tsunami bisa tinggi. Bisa 4 meter, 5 meter, bisa 20 meter. Gelombang 3 meter itu adalah efek pertama setelah gempa terjadi. Ini berdasarkan pemodelan,” jelas Daryono.
Penjelasan BMKG
Terpisah, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menegaskan, pihaknya terus mengawasi potensi aktivitas kegempaan di Indonesia. Tidak terfokus pada segmen atau zona tertentu.
“Semua segmen jadi prioritas BMKG. BMKG memantau 24/7 aktivitas kegempaan di seluruh Indonesia. Baik itu yang bersumber dari megathrust maupun dari sesar aktif,” kata Wijayanto.
“Segmen Selat Sunda bisa berpotensi terdampak di wilayah Jakarta. Ini sudah beberapa kali kita sosialisasikan dan koordinasikan dengan pemda, instansi terkait juga,” tambahnya.
Wijayanto mengacu pada Pusgen 2024 yang menyebut segmen Selat Sunda atau Jawa bagian Barat berpotensi gempa dengan maksimum magnitudo M8,9.
“Berpotensi dirasakan di Jakarta dengan intensitas V-VI MMI. Tsunami minor dengan status waspada (kurang dari 0,5 meter) akan sampai di pesisir pantai utara Jakarta sekitar 3 jam setelah gempa,” jelas Wijayanto.
RI Rawan Gempa Tapi Harus Tetap Tenang
Di sisi lain, Wijayanto menegaskan, wilayah Indonesia memang terletak di daerah yang rawan gempa.
“Sudah berkali-kali juga kita sosialisasikan. Ada ancaman dari sumber megathrust dan sesar aktif. Namun kapan dan di mana secara pasti tidak bisa dipastikan. Belum ada teknologi yang memprediksi gempa secara tepat waktu dan lokasinya,” kata Wijayanto.
“Indonesia adalah daerah rawan gempa. Gempa dapat terjadi kapan saja, gempa belum dapat diprediksi kapan dan di mana akan terjadi secara tepat,” tukasnya.
Karena itu, dia mengimbau warga RI waspada tapi tetap tenang.
“Masyarakat Indonesia diimbau agar tetap tenang dan waspada serta tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, khususnya yang beredar melalui media sosial,” ucapnya.
“Langkah mitigasi yang dapat dilakukan seperti pengetahuan cara selamat, langkah evakuasi, perkuatan bangunan, penguatan rambu evakuasi, dan lain-lain. Informasi resmi mengenai peringatan dini tsunami hanya bersumber dari BMKG, melalui kanal [website bmkg.go.id, aplikasi infoBMKG, dan @infoBMKG],” tegas Wijayanto.
(dce/dce)




