Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Bocor! Iran Diam-diam Siapkan Perang Lebih Besar Lawan AS yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, CNBC Indonesia – Di balik nota kesepahaman (MoU) yang diteken Presiden AS Donald Trump dengan Iran pada 17 Juni lalu, para pemimpin garis keras Iran ternyata menyiapkan skenario berbeda. Alih-alih menaruh kepercayaan pada perundingan damai, mereka disebut menghabiskan dua bulan terakhir untuk mempersiapkan konfrontasi yang lebih besar dengan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal yang mengutip komunikasi intelijen yang berhasil disadap serta sumber pejabat Iran dan Arab, Minggu (17/8/2026), para elite garis keras Teheran meyakini kesepakatan tersebut hanyalah taktik AS dan Israel untuk meredakan tekanan terhadap ekonomi global sembari membeli waktu untuk serangan lebih besar di kemudian hari.
Sejumlah langkah persiapan telah dilakukan Iran, mulai dari memperkuat kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atas angkatan bersenjata reguler, menempatkan veteran perang Iran-Irak di posisi-posisi kunci, memperluas operasi kontra-intelijen domestik, hingga menggenjot produksi rudal dan drone. Pemerintah Iran juga dilaporkan mengintensifkan koordinasi dengan milisi sekutu di Yaman dan Irak untuk memperluas medan konflik.
“Ada pandangan luas di Iran bahwa perang sesungguhnya belum benar-benar dimulai,” kata Mohammad Hassan Sangtarash, analis pertahanan asal Teheran yang dekat dengan pemerintah Iran. Ia menyebut strategi Iran mengikuti pola “salami-slicing”, yakni eskalasi bertahap dan terukur untuk melemahkan lawan sebelum konfrontasi besar-besaran terjadi.
Kesenjangan persepsi antara Washington dan Teheran ini disebut menjadi biang keladi macetnya negosiasi damai. Trump bahkan berulang kali menyebut para pemimpin Iran “gila” dan menuduh mereka berbohong, di tengah rangkaian serangan yang justru meningkat pascapenandatanganan MoU, termasuk penembakan kapal-kapal di Selat Hormuz dan perluasan konflik ke Laut Merah.
Padahal, kesepakatan yang diteken di Istana Versailles, Prancis itu menjanjikan keringanan sanksi bagi Iran untuk kembali menjual minyaknya, akses ke miliaran dolar dana yang dibekukan, hingga potensi dana rekonstruksi senilai US$300 miliar. Sebagai gantinya, Iran wajib membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal dan berunding secara serius soal program nuklirnya.
Namun kenyataannya, IRGC disebut memanfaatkan masa tenang pascakesepakatan untuk mengirim penasihat militer ke Irak, Yaman, dan Lebanon guna menyusun rencana serangan lanjutan, lengkap dengan pengiriman rudal, senjata laut, dan peluncur drone ke kawasan Laut Merah. Hasilnya, milisi Houthi di Yaman kembali menyerang kapal-kapal Arab Saudi dan menutup akses Selat Bab al-Mandeb, sementara milisi di Irak dilaporkan menyerang fasilitas minyak Saudi menggunakan drone.
Iran juga meningkatkan serangan terhadap pasukan AS, termasuk menembakkan lima rudal balistik ke Yordania yang menewaskan sejumlah tentara Amerika. Di dalam negeri, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei melakukan reshuffle besar-besaran di tubuh militer dan aparat keamanan, menunjuk sejumlah loyalis untuk memperketat rantai komando serta mendorong pendekatan yang lebih ofensif terhadap negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Para pejabat Teluk, termasuk Kuwait, semakin waswas usai insiden penyusupan enam personel IRGC ke sebuah pulau Kuwait pada awal Mei. IRGC bahkan disebut telah menyusun rencana eskalasi lanjutan, mulai dari sabotase kabel internet bawah laut di Teluk Persia, memicu kerusuhan politik di negara berpenduduk Syiah seperti Kuwait dan Bahrain, hingga opsi operasi darat ke wilayah Kuwait.
Dengan perundingan yang kembali menemui jalan buntu dan Iran yang tak kunjung mundur dari sikap eskalatifnya, Trump dilaporkan memilih menahan diri sembari menunggu efek tekanan ekonomi dan blokade Angkatan Laut AS melemahkan posisi Teheran. Namun para penasihat dekat perunding utama Iran memperingatkan bahwa perundingan damai saat ini mungkin hanya jeda sementara sebelum konflik yang lebih besar pecah. “Bangsa Iran masih punya banyak urusan yang belum selesai dengan Trump. Iran siap menghadapi konfrontasi besar,” kata Mehdi Mohammadi, penasihat strategis perunding utama Iran.
(fsd/fsd)




