Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah Boyolali Penemu Celah Keamanan NASA yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, —
Seorang anak kelas 6 sekolah dasar (SD), Ibrahim Al Abrar menjadi perhatian publik setelah berhasil menemukan celah keamanan pada sistem atau domain publik milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Berkat temuannya itu, siswa SD asal Boyolali, Jawa Tengah, tersebut menerima surat apresiasi resmi dari lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut tertanggal 9 Juli 2026.
Ibrahim merupakan siswa kelas 6 SDN 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali. Bocah yang akrab disapa Ibra itu merupakan putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Aminuddin Salas dan Hannisa Oktaviani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayahnya berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN Kemusu, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Ketertarikan Ibra terhadap dunia teknologi bermula dari kegemarannya bermain gim. Dengan dukungan orang tua, ia kemudian belajar membuat gim melalui coding secara autodidak.
Dalam enam bulan terakhir, ia mulai mendalami bidang keamanan siber melalui YouTube, kecerdasan buatan (AI), dan berbagai sumber belajar di internet.
“Cybersecurity itu dapat saran-saran kakak-kakak online,” kata Ibra seperti diberitakan Detik, Jumat (17/7).
Ibra mengaku berhasil menemukan celah keamanan NASA setelah belajar tentang keamanan siber. Selain itu, dia juga terinspirasi dari berita-berita orang yang berhasil mendapat celah keamanan sistem di NASA.
Kemampuan tersebut membawanya menemukan kerentanan berupa broken link hijacking pada salah satu domain publik NASA. Temuan itu kemudian dilaporkan melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) milik NASA dan berhasil diverifikasi.
Setelah beberapa kali mengirim, temuan celah Ibra akhirnya terverifikasi mendapat surat apresiasi dari NASA sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam membantu meningkatkan keamanan sistem lembaga tersebut.
“Kemarin bisa dapat sertifikat NASA itu karena nyari kerentanan di web NASA. Menemukan broken link hijacking. Terus dilaporkan lewat VDP. Lapornya sebenarnya sudah hampir 2 bulan, tapi baru dibalas tanggal 9 Juli, dapat sertifikat itu,” kata Aminudin, ayah Ibra.
Sebelum memperoleh apresiasi tersebut, Ibra telah beberapa kali mengirim laporan kerentanan ke NASA.
Dari empat laporan yang dikirim, satu dinyatakan diterima dan memperoleh surat apresiasi, satu berstatus disetujui namun masih menunggu tindak lanjut, satu ditolak, dan satu lainnya dinyatakan duplikat karena telah lebih dahulu dilaporkan pihak lain.
Ke depan, Ibra bercita-cita menjadi profesional di bidang keamanan siber. Orang tuanya berharap pencapaian tersebut menjadi motivasi bagi putranya untuk terus belajar sekaligus menginspirasi anak-anak lain agar memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kemampuan di bidang informasi dan keamanan siber.
“Kalau saya sebagai orang tua, harapannya, ini kan masih awal. Harapannya bisa tambah semangat habis dapat itu (surat apresiasi dari NASA). Mungkin ke depannya bisa dapat bug bounty, biar bisa tambah semangat lagi. Karena kan ke depannya kalau dia memang pingin jadi cybersecurity profesional itu kan berarti sudah ngarahnya ke pekerjaan,” harap dia.
“Dan mungkin bisa jadi motivasi untuk anak-anak lain yang juga suka IT, ternyata kalau sebenarnya ada niat belajar itu semuanya sekarang itu bisa, mudah gitu. Ada internet, ada AI, ada YouTube. Tinggal niat anaknya anak masing-masing saja. Karena saya lihat sebagai orang tua seperti itu. Semua itu tergantung motivasi anaknya sendiri,” tambah Aminudin.
(van/dmi)
Add
as a preferred
source on Google




