Wednesday, August 26, 2026
17.9 C
Indonesia

Raksasa Eropa Makin Sakit, Angka Kebangkrutan Meledak-Tembus 188 Ribu – Publik Pos Update

Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Raksasa Eropa Makin Sakit, Angka Kebangkrutan Meledak-Tembus 188 Ribu yang sedang hangat diperbincangkan.




Jakarta, – Ekonomi Jerman kini tengah dihantam krisis mematikan yang menyebabkan ratusan ribu perusahaan terpaksa menghentikan operasinya. Badai kebangkrutan ini telah menembus level tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir dan menjadi ancaman nyata bagi fondasi perekonomian salah satu negara terkuat di Eropa tersebut.

Mengutip Anadolu Agency, Rabu (26/08/2026), tercatat ada sekitar 188.000 perusahaan yang secara resmi telah menghentikan operasinya pada tahun 2025. Angka ini melonjak 10% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Data terbaru dari Kantor Statistik Federal (Destatis) menunjukkan bahwa pengadilan lokal Jerman telah mendaftarkan 2.276 pengajuan kebangkrutan perusahaan pada April 2026. Angka tersebut mewakili peningkatan sebesar 7,1% secara tahunan, dan melengkapi rentetan kenaikan sebesar 6,5% di sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena tidak lagi hanya menyasar bisnis yang sedang kesulitan, tetapi juga mulai menumbangkan perusahaan dengan rekam jejak kelayakan kredit yang baik atau rata-rata. Juru bicara agen pelaporan kredit Creditreform, Patrick-Ludwig Hantzsch, melontarkan peringatan kerasnya terkait fenomena ini.

“Krisis ini sekarang menggerogoti seluruh ekonomi,” tegasnya.

“Tsunami” Penutupan UMKM dan Industri Tradisional

Di saat kebangkrutan perusahaan berskala raksasa secara rutin menjadi berita utama, ribuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru menghilang dari pasar hampir tanpa disadari oleh publik. Beban biaya operasional, tekanan persaingan, dan kekurangan tenaga kerja telah menjadi hambatan yang terlalu berat bagi banyak pengusaha.

Kehancuran ini menghantam keras sektor ekonomi tradisional, terutama manufaktur dengan 11.000 penutupan (naik 10%), konstruksi sebanyak 24.000 penutupan (naik 12%), dan perhotelan dengan 15.000 penutupan (naik 15%). Menariknya, dari total perusahaan yang tutup pada tahun 2025, hanya sebagian kecil yakni sekitar 13% yang benar-benar mengajukan kebangkrutan secara hukum, sementara sebagian besar sisanya memilih untuk menutup bisnis secara sukarela. 

“Hampir sepertiga dari seluruh penutupan sukarela kini disebabkan oleh masa pensiun,” kata peneliti di Pusat Penelitian Ekonomi Eropa Leibniz (ZEW), Sandra Gottschalk, membeberkan alasan utamanya.merujuk pada banyaknya eksekutif perusahaan yang pensiun namun tidak dapat menemukan penerus.

Krisis Kumulatif dan Ancaman Disrupsi AI

Sementara itu, pakar kepailitan, Hans Joachim-Berner, menyoroti krisis luar biasa ini dan memandangnya sebagai sebuah kehancuran yang mencakup segalanya. Semua pihak saat ini dinilai sedang menderita akibat lingkungan pasar yang mencekik, harga energi yang melambung, inflasi yang menekan niat belanja konsumen, hingga tren suku bunga tinggi.

Ia menyebut rentetan peristiwa ini sebagai sebuah krisis kumulatif. Krisis kumulatif adalah krisis yang terbentuk secara bertahap akibat penumpukan berbagai masalah, sehingga dampaknya semakin besar dan sulit ditangani.

“Pertama Covid-19, kemudian kesulitan rantai pasokan, pemulihan dari pandemi. Ukraina, krisis energi, kini Iran, dan ditambah lagi masalah bea cukai, yang mana semua ini telah sangat membebani, atau bahkan menguras habis, sumber daya keuangan banyak perusahaan,” ungkapnya.

“Model bisnis berubah secara mendasar dan dengan kecepatan yang dramatis, didorong oleh AI,” tuturnya menyebut perusahaan-perusahaan juga harus menghadapi tantangan transformasi besar akibat pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI).

Pajak Mencekik dan Ketatnya Pinjaman Bank

Dari sisi komunitas bisnis, tingginya pungutan pajak, biaya tenaga kerja, dan birokrasi yang berbelit-belit dituding sebagai biang kerok utama. Promotor konser asal Berlin, Karsten Schmidt, menjadi salah satu pengusaha yang secara terbuka menceritakan penderitaannya.

“Pajak yang tinggi di Jerman benar-benar mematikan bisnis kecil saya. Saya benar-benar berpikir untuk mengajukan kebangkrutan. Tidak peduli seberapa banyak saya bekerja, saya secara harfiah dibanjiri dengan surat pajak setiap hari dan saya tidak tahu harus berbuat apa,” keluhnya.

“Saya serius merenungkan untuk memindahkan bisnis saya ke negara Eropa lain dengan pajak dan biaya tenaga kerja yang lebih rendah karena saya pada dasarnya bekerja untuk kantor pajak,” ucapnya sembari mendesak pemerintah untuk menciptakan ekosistem bisnis yang ramah seperti di AS.

Di sisi lain, gelombang kebangkrutan ini pada akhirnya memukul pasokan kredit bagi sektor ekonomi riil. Bank-bank mulai ngeri dan merespons risiko sistemik ini dengan memperketat standar pinjaman, menuntut lebih banyak agunan, memberikan persyaratan yang lebih keras, dan pengawasan yang super ketat.

Tindakan perbankan ini justru menghancurkan ruang gerak manuver para pelaku UMKM, terutama di dua sektor kunci seperti pemasok otomotif dan perusahaan energi, yang secara tradisional sangat bergantung pada pinjaman bank tepat di saat mereka sangat membutuhkan investasi untuk merestrukturisasi model bisnisnya.

(tps/sef)

Sumber

Sedang Hangat

Kemenag Bantah Isu Menteri Agama Nasaruddin Umar Mundur

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kemenag Bantah...

Kunjungi TASPEN, Timor-Leste Perdalam Pengelolaan Jaminan Sosial

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kunjungi TASPEN,...

Kepala Dapur MBG Kini Wajib Bangun Jam 2 Pagi, Absen Wajib via Zoom – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kepala Dapur...

KPK Tahan Kepala Bea Cukai Kediri Terkait Dugaan Korupsi

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai KPK Tahan...

Topik Terbaru

Kemenag Bantah Isu Menteri Agama Nasaruddin Umar Mundur

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kemenag Bantah...

Kunjungi TASPEN, Timor-Leste Perdalam Pengelolaan Jaminan Sosial

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kunjungi TASPEN,...

Kepala Dapur MBG Kini Wajib Bangun Jam 2 Pagi, Absen Wajib via Zoom – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kepala Dapur...

KPK Tahan Kepala Bea Cukai Kediri Terkait Dugaan Korupsi

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai KPK Tahan...

Hanura Ganti Logo Jadi Kepala Singa, Ini Maknanya

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Hanura Ganti...

BNI Perkuat Layanan RM Pagi Sore, Optimalkan Pengalaman Pelanggan

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai BNI Perkuat...

Ada Kabar Demo 27 Agustus, Massa Ngumpul Senayan-Logistik Numpuk – Publik Pos Update

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Ada Kabar...
spot_img

Baca Juga

Popular Categories