Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kesehatan Warga Pulau Sebesi Terdampak Debu Vulkanik Anak Krakatau yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, —
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi maraton pada awal pekan ini berdampak terhadap aktivitas warga di Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan.
Debu vulkanik berwarna hitam terbawa angin hingga masuk ke permukiman warga di pulau tersebut. Tim kesehatan pun disiagakan untuk membantu warga apabila mengalami gangguan pernapasan.
Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan petugas di pos pengamatan untuk memonitor perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait keluhan masyarakat di Pulau Sebesi, Kecamatan Kalianda, ia telah meminta tim kesehatan mendatangi lokasi tersebut untuk memberikan bantuan mengantisipasi gangguan pernafasan masyarakat.
“Tentu ini sangat menjadi perhatian kami selaku Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, terkait kesehatan masyarakat itu menjadi prioritas kami,” katanya, Selasa (18/8) dikutip dari detikSumbagsel.
“Keberadaan tim kesehatan di puskesmas setempat adalah langkah kami sebagai respons awal dan mengimbau masyarakat, tim di sana akan memantau kesehatan masyarakat yang terdampak debu vulkanik,” sambungnya.
Kondisi Gunung Anak Krakatau yang dalam dua hari aktivitasnya meningkat menjadi alarm masyarakat untuk tetap waspada. Untuk itu dirinya mengimbau masyarakat tidak mendekati GAK dengan radius tiga kilometer
“Memang kondisi Anak Krakatau sejak kemarin erupsi, maka saya mengimbau masyarakat, nelayan untuk tidak mendekati area dalam radius tiga km dari kawah aktif,” tandasnya.
Diketahui, sejak Minggu hingga Senin tercatat erupsi yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau sebanyak 21 kali dengan semburan abu vulkanik tertinggi mencapai 400 meter di atas puncak atau 557 meter di atas permukaan laut.
Kesaksian warga Sebesi
Salah satu warga Pulau Sebesi, Chandra mengatakan debu vulkanik mulai terlihat di sekitar rumahnya pada Senin (17/8) sore. Debu tersebut menempel di halaman dan lantai keramik rumah.
“Debunya nempel di halaman, di lantai keramik. Kalau di dalam rumah enggak, cuma di luar,” katanya, Senin.
Menurut Chandra, kondisi tersebut dipengaruhi arah angin. Saat angin bertiup dari selatan, debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau lebih mudah terbawa menuju permukiman Pulau Sebesi.
“Kalau angin selatan, ke sini juga. Tadi disapu lagi, disapu lagi, hitam lagi,” ujarnya dikutip dari detikSumbagsel.
Chandra menyebut debu yang menempel di halaman tergolong sedang. Namun, warga tetap mengantisipasi dampaknya, terutama terhadap gangguan pernapasan.
Warga diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Warga yang sedang sakit juga disarankan tetap berada di dalam rumah.
“Kalau parah memang ada gangguan di udara, pernapasan. Yang dikhawatirkan anak-anak kecil, balita, begitu juga yang dewasa,” jelasnya.
Hal senada dikatakan warga lainnya bernama Amalia yang juga mengaku merasakan dampak dari abu vulkani Gunung Anak Krakatau.
“Iya, sudah terasa abunya. Kalau kemarin-kemari tidak terasa dan hari ini baru terasa dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau,” ujarnya.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/kid)




