Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Korsel Buka Peluang Ekspor Teknologi Baterai dan Transmisi Bawah Laut yang sedang hangat diperbincangkan.
Korea Selatan (Korsel) membuka peluang kerja sama ekspor teknologi baterai canggih hingga transmisi listrik bawah laut ke Indonesia.
Teknologi tersebut dinilai dapat mendukung pengembangan energi terbarukan, termasuk ambisi Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).
Head of the Energy Market and Policy Solutions for Our Climate (SFOC) Gahee Han mengatakan kedua negara telah membahas peluang pemanfaatan teknologi Korea Selatan dalam sektor energi. Namun, ia mengaku belum banyak perkembangan konkret sejak nota kesepahaman (MoU) ditandatangani pada April 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu teknologi yang dibahas adalah baterai canggih dan jaringan transmisi listrik bertegangan tinggi arus searah atau high voltage direct current (HVDC). Teknologi ini dapat digunakan untuk membangun jaringan transmisi listrik bawah laut.
“Sejujurnya, sejak MoU ditandatangani pada April 2026, kami belum melihat banyak kemajuan. Namun, kedua negara sudah duduk bersama untuk membahas teknologi Korea Selatan, seperti baterai canggih dan teknologi jaringan transmisi listrik ke Indonesia. Pemerintah kami tentu memiliki ketertarikan untuk mengekspor teknologi tersebut. Kami berharap dapat menjalin kemitraan dalam ekspor dan impor teknologi,” ujar Gahee dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Jumat (30/10).
Kendati demikian, Gahee menilai kesiapan pasar energi menjadi salah satu prasyarat agar investasi perusahaan Korea Selatan di Indonesia dapat berkembang. Ia mencontohkan industri baterai Korea Selatan yang digerakkan perusahaan seperti SK, Samsung dan LG.
[Gambas:Youtube]
Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki teknologi baterai yang kompetitif, tetapi menghadapi kesulitan finansial di pasar domestik karena belum tersedianya mekanisme pasar listrik yang memadai untuk memberikan kompensasi atas penggunaan teknologi tersebut.
Karena itu, Indonesia perlu menyiapkan regulasi pasar listrik yang lebih maju agar investasi teknologi baterai dapat memberikan keuntungan yang layak bagi pelaku usaha.
Gahee juga menyinggung peluang kerja sama di sektor baja rendah emisi. Ia mengatakan produsen baja asal Korsel POSCO telah mengembangkan teknologi hydrogen-based direct reduction iron (DRI), yakni teknologi produksi besi menggunakan hidrogen yang dapat menekan emisi dalam proses pembuatan baja.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut masih menghadapi tantangan ketersediaan energi terbarukan. Gahee menyebut energi terbarukan baru menyumbang sekitar 10 persen dari bauran pembangkit listrik Korea Selatan. Kondisi itu membuat POSCO dan produsen baja lainnya kesulitan memperoleh pasokan energi bersih yang cukup.
Menurutnya, pembenahan aturan pasar listrik diperlukan agar teknologi baterai dan produksi baja rendah emisi dapat beroperasi secara ekonomis.
“Untuk memproduksi baja hijau, serta mengembangkan dan mengekspor teknologi baterai yang dapat menguntungkan pasar, Indonesia dan Korea perlu memperbaiki aturan pasar listrik agar teknologi tersebut memperoleh kompensasi yang memadai,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) Deon Arinaldo mengatakan kerja sama baterai antara RI dan Korea Selatan dapat diarahkan untuk mendukung integrasi PLTS dengan sistem penyimpanan energi baterai atau battery energy storage system (BESS).




