Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Warga Ngamuk Harga Bensin Mahal, Ekonomi Terancam Lumpuh yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta,  — Pemerintah Kenya berupaya meredam aksi mogok kerja massal operator transportasi yang sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi di beberapa kota besar negara itu. Hal itu menyusul adanya aksi protes warga yang menuntut penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berujung pada kerusuhan dan jatuhnya korban jiwa.
Melansir BBC International, Menteri Dalam Negeri Kenya Kipchumba Murkomen mengungkapkan ada kesepakatan untuk menghentikan sementara pemogokan tersebut. Kesepakatan tersebut dicapai setelah pemerinah Kenya melakukan konsultasi dengan perwakilan transportasi umum.
Ia menegaskan pemerintah Kenya akan melakukan negosiasi di tingkat yang lebih tinggi dalam satu pekan ke depan guna mencari titik temu atas persoalan harga energi tersebut
“Kami telah mencapai terobosan bukan karena kami merasa puas, tetapi karena kami ingin memberikan kesempatan pada negosiasi,” kata Ketua Nasional Federasi Sektor Transportasi Umum, Edwin Mukabane, dilansir BBC, dikutip Minggu (24/5/2026).
Aksi protes yang berlangsung selama dua hari tersebut telah membuat ibu kota Nairobi dan kota-kota lainnya berada dalam kondisi lumpuh dengan sekolah serta bisnis yang terpaksa ditutup.
Pihak kepolisian mencatat setidaknya empat orang tewas, 30 orang terluka, dan lebih dari 700 orang ditangkap dalam demonstrasi nasional yang diwarnai pemblokiran jalan utama.
“Jika hal ini tidak ditangani secara serius dalam tujuh hari ke depan, mogok kerja akan dilakukan kembali,” tambah Mukabane.
Di sisi lain, Kementerian Energi Kenya sebelumnya telah mengumumkan kebijakan untuk menurunkan harga solar menjadi 242 shilling sekitar Rp 32.000 per liter guna meringankan penderitaan konsumen. Namun, otoritas pengatur energi setempat tetap mempertahankan harga bensin di level 214 shilling sekitar Rp 29.000 per liter, yang dinilai masih terlalu tinggi bagi para operator transportasi.
Menteri Energi Kenya Opiyo Wandayi menyampaikan bahwa pemerintah akan tetap peka terhadap penderitaan konsumen bensin dan berterima kasih kepada operator transportasi karena bersedia menangguhkan aksi mogok tersebut. Dia mengakui bahwa tekanan terhadap harga domestik saat ini tidak lepas dari gangguan rantai pasok global.
Asal tahu saja, kenaikan harga BBM di Kenya dan banyak negara Afrika lainnya dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi di Selat Hormuz. Meski gencatan senjata telah disepakati, harga minyak dunia tetap bertahan di level tinggi karena blokade pada jalur yang memasok seperlima kebutuhan minyak global tersebut masih berlangsung.
“Negosiasi di tingkat yang lebih tinggi akan dilakukan dalam minggu depan,” pungkas Menteri Dalam Negeri Kipchumba Murkomen.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google




