Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Amarah Petugas SPBU Meledak Depan Gubernur Bali: Saya Bukan Robot Pak! yang sedang hangat diperbincangkan.
Bali, —
Momen emosional mewarnai inspeksi Gubernur Bali Wayan Koster di SPBU 54.801.48 Jalan Diponegoro, Denpasar, Rabu (14/10) malam.
Seorang operator perempuan meluapkan kekecewaan dan tangisnya ketika diminta memperpanjang operasional SPBU hingga 24 jam demi mengurai antrean panjang kendaraan yang mengepung wilayah Pulau Dewata.
Video curahan hati petugas yang kelelahan tersebut lantas viral di media sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya bukan robot, saya juga capek, Pak! Iya, saya pegawai, tapi saya punya hak juga!” ujar operator perempuan tersebut sembari ditenangkan rekan-rekannya di lokasi.
Insiden tersebut terjadi di tengah fenomena kelangkaan dan antrean panjang BBM jenis Pertalite yang melanda Bali sejak awal pekan.
Kelangkaan dipicu oleh kendala cuaca serta keterlambatan sandar kapal pengangkut pasokan BBM di fasilitas depo, yang memicu kepanikan warga (panic buying) hingga antrean mengular hingga lebih dari 1 kilometer di Denpasar, Badung, dan wilayah lainnya.
Guna mengurai kemacetan dan kepungan warga yang berburu bensin, pemerintah daerah dan Pertamina menginstruksikan SPBU untuk beroperasi penuh selama 24 jam. Kebijakan mendadak ini rupanya berdampak berat bagi para pekerja di garis depan.
Admin SPBU 54.801.48, Tria, menjelaskan para pekerja kaget saat mendadak diminta bersiap buka 24 jam. Pasalnya, seluruh operator di SPBU tersebut adalah perempuan, bahkan salah satu di antaranya masih dalam kondisi menyusui.
Tria menyebutkan, operasional normal SPBU sejatinya hanya berlangsung dari pukul 06.00 hingga 23.00 WITA dengan skema dua shift yang diisi total 12 pekerja. Namun, lonjakan antrean BBM memaksa mereka bekerja lembur melebihi batas jam kerja hingga lewat tengah malam.
“Kan mereka jadi kaget (diminta buka 24 jam), apalagi ada satu operator saya itu masih menyusui,” ujar Tria saat ditemui di lokasi, Kamis (15/10).
Tria menambahkan, keterbatasan personel menjadi kendala utama jika harus beroperasi penuh tanpa henti.
“Karena mereka juga capek kan pengen diganti juga cuma kan nggak secepat itu bisa nyari orang yang bisa gantiin,” tuturnya seraya menyebut manajemen tengah mendiskusikan solusi terkait penambahan tenaga kerja.
Menanggapi insiden tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan tidak ada miskomunikasi antara dirinya dan petugas di lapangan.
Koster menilai luapan emosi tersebut semata-mata karena faktor kelelahan fisik petugas akibat lonjakan arus warga yang mengantre.
“Enggak (ada miskomunikasi). Saya bilang jangan ngeluh, layani konsumen. Walaupun capek iya layani, enggak boleh ngerasa capek,” kata Koster di Denpasar, Kamis (15/10).
Koster mewajarkan situasi tersebut dan menekankan tidak ada persoalan berarti usai kunjungan tersebut. “Iya (mungkin meluapkan kecapeannya). Enggak ada masalah,” ujarnya.
Guna mengatasi persoalan keletihan petugas sekaligus menjaga kelancaran distribusi BBM dan stabilitas keamanan, Pemprov Bali berkoordinasi menugaskan personel TNI untuk membantu pengamanan dan operasional malam di puluhan SPBU wilayah Denpasar dan Badung.
“Iya mungkin kecapean, tapi untuk malam petugasnya dari TNI,” terangnya.
“Rencananya di 66 SPBU tapi baru bisa jalan 50 SPBU. (Untuk personil) satu SPBU ada dua dan satu (personil) di Denpasar dan Kabupten Badung,” pungkas Koster.
(kdf/gil)




