Saturday, October 31, 2026
22.1 C
Indonesia

Kota Ini Terancam Tumbang Gara-Gara Ulah Presiden, Warga Teriak

Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Kota Ini Terancam Tumbang Gara-Gara Ulah Presiden, Warga Teriak yang sedang hangat diperbincangkan.



Daftar Isi



Jakarta, – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Kanada mulai memberikan dampak serius bagi wilayah-wilayah yang mengandalkan industri manufaktur. Salah satu yang terdampak paling parah adalah Témiscaming, sebuah kota kecil di Quebec, Kanada, yang kini terancam krisis ekonomi setelah pabrik kertas terbesarnya menghentikan operasional akibat tekanan tarif impor yang dicanangkan Presiden AS Donald Trump.

Bangunan pabrik kertas tersebut berdiri mendominasi cakrawala kota tepat di seberang Sungai Ottawa. Selama lebih dari satu abad, urat nadi perekonomian masyarakat setempat sangat bergantung pada keberadaan pabrik tersebut serta industri kehutanan di sekitarnya.

Namun, sejak awal Oktober, pabrik milik perusahaan asal AS, Rayonier Advanced Materials (RYAM), resmi menghentikan operasionalnya melalui kebijakan economic shutdown untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Melansir BBC International, Sabtu (31/10/2026), keputusan tersebut diambil menyusul buntunya perundingan perdagangan antara AS dan Kanada, yang dipicu oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump dalam memberlakukan tarif tambahan terhadap sejumlah produk impor dari Kanada.

Akibat penutupan ini, sekitar 360 karyawan kehilangan pekerjaan. Untuk sementara waktu, sebagian pekerja masih menerima pembayaran kompensasi parsial melalui dana bantuan pemerintah terkait dampak tarif.

Bagi masyarakat Témiscaming, penutupan pabrik bukan sekadar persoalan kehilangan mata pencaharian, melainkan juga ancaman terhadap keberlangsungan hidup yang telah mereka bangun selama beberapa generasi.

Nadine Suley, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa pabrik tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat. Ia bahkan berencana berburu rusa besar (moose) bersama warga lainnya selama musim berburu untuk membantu mencukupi kebutuhan pangan di tengah situasi ekonomi yang sulit.

“Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah rumah kami,” ujar Suley kepada BBC International, seraya menambahkan bahwa kebijakan tarif AS terasa seperti serangan pribadi bagi kotanya.

Nilai Properti Anjlok dan Ancaman Eksodus Warga

Dampak penghentian operasional pabrik mulai merembet ke berbagai sektor. Nilai properti di Témiscaming dilaporkan anjlok drastis dalam waktu singkat, ditandai dengan banyaknya papan bertuliskan “Dijual” di depan rumah-rumah warga.

Kekhawatiran juga muncul terkait potensi eksodus para pekerja di sektor pelayanan publik, mulai dari pegawai toko kelontong hingga tenaga medis di rumah sakit setempat.

Ronnie Raymond, warga yang tumbuh di keluarga pekerja pabrik, mengaku cemas akan masa depan kotanya yang kian tidak pasti.

“Jika pabrik itu benar-benar tutup, kota ini akan berubah menjadi kota mati. Tidak ada lagi yang tersisa dan praktis tidak ada lapangan kerja bagi siapa pun. Ini sungguh menakutkan,” ungkapnya.

Secara nasional, perekonomian Kanada sebenarnya masih menunjukkan ketahanan dalam menghadapi perang dagang dengan mitra utamanya tersebut. Tingkat pengangguran relatif stabil di kisaran 6,5% sejak tarif Trump diberlakukan, sementara pertumbuhan ekonomi tetap berjalan meski lambat.

Namun, kondisi makro tersebut tidak mencerminkan tekanan berat yang dialami sektor-sektor manufaktur tertentu. Industri baja, aluminium, otomotif, hingga kayu, pulp, dan kertas menjadi sektor yang paling tertekan akibat pengenaan tarif AS yang mencapai 50%.

Stéphane Lefebvre, pekerja sekaligus pemimpin serikat buruh di Témiscaming, menilai perhatian pemerintah terhadap penderitaan daerah-daerah kecil masih sangat minim.

Menurutnya, jika pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terjadi di kota-kota besar seperti Toronto, Montreal, Quebec City, atau Vancouver, pemerintah dipastikan akan merespons lebih cepat.

Pekerja Bidik Beli Kembali Pabrik

Ancaman krisis ekonomi di Témiscaming sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Pada 1973, kota ini pernah mengalami situasi serupa ketika pemilik pabrik asal AS mengancam akan menutup operasionalnya.

Saat itu, para pekerja dan manajemen lokal mengambil langkah berani dengan menggalang dana kolektif untuk membeli pabrik tersebut. Langkah ini melahirkan Tembec, perusahaan internasional asal Quebec yang kemudian berkembang hingga ke Amerika Utara dan Prancis.

Kini, para pekerja berharap sejarah manis tersebut dapat terulang kembali. Mereka berencana membentuk koalisi masyarakat lokal untuk membeli kembali pabrik dari RYAM, yang menguisisinya pada 2017.

“Kami berharap keajaiban yang sama dapat terulang untuk kedua kalinya,” kata Lefebvre.

Meski demikian, skema buyout ini membutuhkan dukungan masif dari pemerintah federal Kanada di bawah Perdana Menteri Mark Carney serta pemerintah provinsi Quebec, baik dalam bentuk injeksi finansial maupun kebijakan perdagangan yang berpihak.

Suley menilai, insiatif pembelian kembali pabrik ini dapat menjadi momentum bagi PM Carney untuk membuktikan komitmennya dalam mengampanyekan gerakan beli produk lokal dan melindungi tenaga kerja domestik.

Sementara itu, pihak RYAM dalam pernyataan resminya kepada BBC menolak memberikan komentar terkait potensi penjualan pabrik maupun pihak-pihak yang berminat membelinya.

Pemerintah Dikritik Anak Tirikan Industri Kehutanan

Wali Kota Témiscaming, Alain Gauthier, mengaku tidak menyalahkan RYAM atas keputusan penghentian operasional tersebut. Ia menilai tarif impor AS adalah akar masalah yang menghantam sektor manufaktur Kanada.

Gauthier mendesak pemerintah Kanada segera mengambil tindakan balasan (retaliasi) dengan mengenakan bea masuk terhadap produk kayu papan yang diimpor dari AS, yang saat ini masih menikmati fasilitas bebas tarif.

Ia pun mempertanyakan ketegasan pemerintah dalam menghadapi perang dagang ini.

“Rasanya seperti kita terjun ke medan perang, tetapi hanya berbekal pistol air mainan,” cetusnya.

Kritik serupa dilontarkan berbagai pihak yang menilai industri kehutanan kurang mendapatkan perhatian dibandingkan sektor strategis lain seperti baja dan otomotif.

Sebagai perbandingan, Menteri Perindustrian Kanada Mélanie Joly sebelumnya sempat mengancam akan menjatuhkan sanksi finansial atau memaksa penjualan aset produsen baja Stelco jika perusahaan tetap melakukan PHK terhadap 500 pekerjanya. Selain itu, PM Mark Carney dan Premier Ontario Doug Ford telah mengucurkan paket bantuan senilai C$9miliar (sekitar Rp116 triliun) untuk menyokong industri baja dan otomotif di Ontario.

Sébastien Lemire, anggota parlemen dari wilayah Témiscaming, menyayangkan minimnya langkah konkret pemerintah dalam menyelamatkan industri kehutanan Quebec.

Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Menteri Joly menyatakan bahwa pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar C$400 juta untuk mendukung sektor kehutanan di wilayah pedesaan dan terpencil. Pemerintah juga menyiapkan program bantuan likuiditas bagi perusahaan terdampak agar dapat melakukan diversifikasi pasar di luar AS.

Khusus untuk kasus pabrik di Témiscaming, pemerintah mengklaim tengah berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mencari solusi operasional terbaik.

Tarif 50% Hantam Industri Pulp dan Kertas

Pada Agustus lalu, setelah negosiasi perdagangan kedua negara menemui jalan buntu, AS resmi memberlakukan tarif 50% terhadap produk ekspor Kanada senilai C$28 miliar, mencakup komoditas kayu, pulp, alat tulis, hingga bahan kemasan. Langkah ini langsung dibalas Kanada dengan penerapan tarif balasan senilai setara.

Kebijakan tersebut memukul telak pabrik di Témiscaming mengingat sekitar 75% hasil produksinya diekspor ke pasar AS. Pabrik ini merupakan produsen utama karton kemasan makanan beku di Amerika Utara serta bahan baku tiket lotre gosok.

Presiden Donald Trump berargumen bahwa tarif impor bertujuan mendorong reindustrialisasi dan membuka lebih banyak lapangan kerja di AS. Namun, bagi para pekerja di Kanada, kebijakan ini menjadi pukulan mematikan bagi integrasi rantai pasok lintas negara.

Frank Dottori, mantan insinyur sekaligus mantan CEO Tembec yang kini berusia 80-an tahun, memahami betul kondisi ini. Ia merupakan salah satu tokoh kunci yang mengonsolidasikan pekerja pada dekade 1970-an untuk bersedia memotong gaji sebesar 10% demi mengambil alih kepemilikan pabrik.

Dottori mengakui upaya tersebut awalnya dianggap mustahil. Namun, dengan kepemimpinan yang kuat dan soliditas serikat pekerja, rencana itu sukses dieksekusi. Menurutnya, generasi pekerja saat ini membutuhkan kepemimpinan serupa, di samping kepastian penghapusan tarif AS agar pabrik dapat kembali ekonomis dalam jangka panjang.

Pacu Waktu Sebelum Musim Dingin

Di tengah ketidakpastian, para pekerja di Témiscaming kini menaruh harapan pada pemilu sela (midterm elections) di AS. Mereka berharap pergeseran peta politik dapat menekan pemerintahan Trump untuk melonggarkan hambatan tarif.

Pemerintahan Trump sendiri mulai menunjukkan fleksibilitas setelah melonggarkan tarif pada beberapa produk Kanada pekan lalu akibat tekanan lobi Senator Republik asal Maine, Susan Collins. Kendati demikian, produk-produk asal Témiscaming belum masuk dalam daftar pengecualian tersebut.

Kini, para pekerja harus berkejaran dengan waktu sebelum pembekuan musim dingin (freeze-up) tiba. Jika suhu turun di bawah titik beku saat pabrik dalam kondisi mati, mesin-mesin produksi berisiko mengalami kerusakan permanen akibat membeku, yang akan membuat biaya reaktivasi pabrik membengkak.

Meski menghadapi tantangan berat, Lefebvre menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan pengambilalihan pabrik oleh komunitas lokal.

“Saat ini kami sedang berada di Game 7 [babak penentuan]. Kami akan bertanding dan berjuang sampai peluit akhir dibunyikan,” tegasnya.

(fab/fab)

Sumber

Sedang Hangat

Gelas Cantik Isi 6 Cuma Rp30 Ribuan? Serbu di Transmart Full Day Sale

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Gelas Cantik...

Bertemu Wakapolda Jateng, Anak Ustaz Abu Bakar Ba’asyir Sampaikan Harapan Masyarakat Hidup Damai

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Bertemu Wakapolda...

Tujuh Batalyon Teritorial di Papua Alih Komando, Ini Rinciannya

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Tujuh Batalyon...

Korsel Buka Peluang Ekspor Teknologi Baterai dan Transmisi Bawah Laut

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Korsel Buka...

Jembatan Ini Dibangun dengan Baja Terbaik, Tapi Ambruk Juga

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Jembatan Ini...

Topik Terbaru

Gelas Cantik Isi 6 Cuma Rp30 Ribuan? Serbu di Transmart Full Day Sale

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Gelas Cantik...

Bertemu Wakapolda Jateng, Anak Ustaz Abu Bakar Ba’asyir Sampaikan Harapan Masyarakat Hidup Damai

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Bertemu Wakapolda...

Tujuh Batalyon Teritorial di Papua Alih Komando, Ini Rinciannya

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Tujuh Batalyon...

Korsel Buka Peluang Ekspor Teknologi Baterai dan Transmisi Bawah Laut

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Korsel Buka...

Jembatan Ini Dibangun dengan Baja Terbaik, Tapi Ambruk Juga

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Jembatan Ini...

Naik Sidik, Polisi Segera Periksa Betrand Peto Kasus Kekerasan Seksual

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Naik Sidik,...

Bea Cukai Hormati KPK soal Penetapan Tersangka Korupsi Dedi Congor

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Bea Cukai...

Waka Komisi III DPR Dorong RUU Perampasan Aset Lindungi Korban Investasi Bodong

Publikpos.com - Berikut adalah informasi terbaru mengenai Waka Komisi...
spot_img

Baca Juga

Popular Categories