Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Infrastruktur Arab Porak Poranda, Senjata Iran Bikin AS Mati Kutu! yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Iran dan sekutunya secara diam-diam telah melancarkan puluhan serangan presisi tinggi terhadap berbagai infrastruktur vital di kawasan Teluk sejak pecahnya perang dengan AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Kampanye serangan yang sangat terkoordinasi ini sukses melumpuhkan peralatan krusial, memicu kegagalan beruntun, serta menimbulkan kerugian ekonomi yang masif di seluruh wilayah, sekaligus menjelaskan bagaimana Republik Islam tersebut mampu bertahan melawan keperkasaan militer Amerika Serikat (AS).
Mengutip Reuters, Kamis (15/10/2026), hasil investigasi menemukan fakta mencengangkan bahwa setidaknya telah terjadi 135 serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal Iran yang menyasar 84 situs infrastruktur sipil di negara-negara Arab Teluk. Serangan presisi ini sengaja menargetkan peralatan penting yang tak terlihat dari satelit untuk menimbulkan dampak kehancuran maksimal.
“Setiap target adalah sipil: Bandara, terminal, kilang, pabrik pengolahan gas, daerah perumahan, pusat perbelanjaan, dan yang terbaru, pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah,” tegas CEO Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) Sultan Al Jaber.
Sasaran empuk kelompok proksi yang didukung penuh oleh Teheran, seperti Houthi di Yaman dan milisi Syiah Irak, mencakup sistem perutean minyak vital di pelabuhan Fujairah Uni Emirat Arab (UEA) yang menjadi jalur alternatif utama untuk menghindari blokade Iran di Selat Hormuz. Selain itu, mereka juga sukses menyerang fasilitas gas alam cair Ras Laffan di Qatar, menghancurkan stasiun pompa di sepanjang pipa minyak utama Saudi, hingga menjadikan sejumlah bandara di empat negara (Arab Saudi, UEA, Kuwait, Bahrain) sebagai langganan target serangan udara.
Di Fujairah sendiri, pelabuhan tersebut telah dibombardir sedikitnya 19 kali oleh rudal dan drone Iran. Serangan pertama yang diumumkan pada 3 Maret menghantam tangki-tangki bahan bakar hingga menimbulkan kebakaran dahsyat selama tiga hari dan memaksa dua perusahaan penyimpanan minyak menghentikan operasinya. Serangan lanjutan pada pertengahan Maret bahkan sukses menghancurkan dua manifold matriks, sistem transfer kritis berisi 62 jalur pipa, yang menyebabkan ekspor minyak anjlok ke angka 440.000 barel per hari-kurang dari separuh rata-rata ekspor harian pada 2025.
Selain Fujairah, serangan lain juga melumpuhkan smelter aluminium Emirates Global Aluminium Al Taweelah dan merusak pusat data raksasa milik Amazon di UEA dan Bahrain. Di Kuwait, Iran secara barbar menargetkan setidaknya empat fasilitas desalinasi air yang terhubung dengan pembangkit listrik, sebuah tindakan yang berpotensi memutus total pasokan 90% air minum bagi penduduk di negara gurun pasir tersebut.
Di pihak Arab Saudi, fasilitas pemrosesan dan kilang minyak mereka juga mengalami kerusakan sangat parah akibat dihantam serangkaian serangan mematikan, termasuk hancurnya tiga stasiun pompa di sepanjang Pipa Timur-Barat menuju Pelabuhan Laut Merah Yanbu. Akibat rentetan sabotase brutal ini, rata-rata produksi minyak harian Saudi anjlok tajam hingga berada di bawah 7 juta barel, memicu kerugian finansial yang ditaksir mencapai lebih dari US$ 50 miliar (Rp 900 triliun).
Tak hanya itu, sebuah serangan mematikan di Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh bahkan telah merenggut nyawa sedikitnya 12 orang akhir pekan lalu.
Meski kerusakan yang ditimbulkan sangat masif, negara-negara Teluk terus berupaya meredam informasi dengan berdalih bahwa semua kehancuran itu murni disebabkan oleh jatuhnya puing-puing dari senjata Iran yang berhasil dicegat. Pemerintah UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi bahkan menerapkan aturan hukum yang sangat ketat untuk membatasi penyebaran gambar dan video terkait lokasi-lokasi yang hancur dihantam rudal.Menanggapi bungkamnya negara-negara Teluk tersebut, pakar analisis terorisme justru membeberkan realita pahit di lapangan.
“Negara-negara Teluk kini memperlakukan penilaian kerusakan seolah-olah itu adalah rahasia negara,” ungkap Presiden lembaga konsultan minyak Foreign Reports, Matthew Reed.
Keberhasilan luar biasa Iran dalam melancarkan serangan presisi berdarah ini diyakini tidak lepas dari pasokan intelijen asing, yang kemungkinan besar dipasok oleh Rusia dan China, serta jaringan informan yang menyusup ke berbagai situs sensitif. Rangkaian serangan destruktif ini pada akhirnya memaksa UEA untuk bertekuk lutut dan tunduk.
Mereka diam-diam menyetujui pelepasan dana milik Iran senilai US$ 10 miliar (Rp 180 triliun) yang sebelumnya dibekukan di sistem perbankan Emirat, sebuah langkah taktis agar wilayah UEA terbebas dari gempuran rudal Teheran.
(tps/tps)




