Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Rumah Anggota DPR Tiba-Tiba Digeledah Anak Buah Presiden, Ada Apa? yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Otoritas Amerika Serikat (AS) tiba-tiba melakukan penggeledahan, Senin dini hari di kediaman anggota DPR AS dari Partai Demokrat asal Minnesota, Ilhan Omar. Ia selama ini dikenal sebagai kritikus vokal Donald Trump yang kerap menjadi sasaran hinaan politik sang presiden yang berasal dari Partai Republik tersebut.
Penggeledahan itu merupakan bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung di Departemen Kehakiman. Sumber mengatakan ada “dugaan penipuan imigrasi” dari anggota parlemen kelahiran Somalia tersebut yang diisi oleh mendiang ayahnya saat ia masih kanak-kanak.
“Hari ini di wilayah Washington, DC, Homeland Security Investigations melaksanakan surat perintah penggeledahan yang disahkan secara hukum dan diperoleh oleh Departemen Kehakiman,” bunyi pengumuman Departemen Kehakiman, dikutip Reuters, Selasa (13/10/2026).
“Tindakan penegakan hukum ini merupakan bagian dari penyelidikan federal yang sedang berlangsung,” tambahnya.
|
Ilham Omar (Foto: REUTERS/Brian Snyder)
|
Omar sendiri tak tinggal diam. Ia menulis di media sosial bahwa pemerintah AS sedang dijadikan alat untuk menargetkan lawan politik presiden.
“Selama sepuluh tahun, Trump telah menargetkan saya dengan kebohongan tak berdasar dan kampanye pencemaran nama baik,” kata Omar.
“Ini hanyalah eskalasi terbaru dalam kampanye intimidasi politiknya. Saya tidak akan dibungkam,”ujarnya.
Anggota Demokrat lainnya menuduh Trump dan pemerintahannya melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Apalagi, Omar (44 tahun), sedang berupaya memenangkan masa jabatan kelima (periode dua tahun) di DPR AS dalam pemilihan umum sela pada 3 November nanti.
Sebelumnya, saat berkampanye di Youngstown, Ohio, Trump menyinggung soal Omar, yang lahir di Somalia dan menjadi warga negara AS pada tahun 2000, dan menetap di Minnesota. Minnesota sendiri wilayah yang menjadi rumah bagi komunitas besar warga Somalia.
“Dia berasal dari salah satu negara terburuk di muka bumi,” kata Trump.
“Betapa kacaunya keadaan yang mereka ciptakan… Somalia,” tegas Trump dibalas dengan teriakkan “deportasi” oleh para pendukungnya.
Setelahnya, Trump mendesak para pendukungnya untuk memilih Partai Republik. Apalagi, tambah Trump, jika ingin mencegah Ohio dijarah, diacak-acak, dan dihancurkan seperti “Minnesota yang sedang dihancurkan”.
Penyelidikan ke Musuh Politik Presiden
Departemen Kehakiman selama masa jabatan Trump yang kedua telah menyelidiki dan mengajukan tuntutan terhadap sejumlah orang yang dianggap sebagai musuh politik Trump. Mereka telah mendakwa mantan Direktur FBI James Comey, Jaksa Agung negara bagian New York Letitia James dan mantan penasihat keamanan nasional Trump yang menjadi kritikus John Bolton.
Mereka juga telah menyelidiki anggota parlemen dari Partai Demokrat yang mendesak militer AS untuk tidak mengikuti perintah ilegal, Senator Demokrat Adam Schiff dan pejabat Federal Reserve Jerome Powell dan Lisa Cook. Kasus terhadap James dan satu dari dua kasus yang diajukan terhadap Comey dibatalkan oleh hakim federal.
Bolton mengaku bersalah dan dijadwalkan akan dijatuhi hukuman bulan ini. Dewan juri dan hakim federal telah menghalangi beberapa penyelidikan lainnya.
Hadapi Ancaman Demi Ancaman
Sementara itu, Omar kerap menghadapi penghinaan politik dari Trump. Pengusaha asal New York itu telah menjadikan komunitas Somalia-Amerika sebagai ancaman bagi Minnesota dalam ledakan retorika anti-Somalia dan anti-Muslim.
Omar menyebut fokus Trump pada dirinya adalah sebuah “obsesi yang tidak sehat dan menyeramkan”. Para pendukung hak-hak sipil mengkritik retorika Trump terhadap kelompok minoritas dan imigran, termasuk ketika ia sebelumnya menyebut warga Somalia sebagai “sampah”.
Omar mengatakan dia dan keluarganya pun menghadapi ancaman pembunuhan, yang ia anggap sebagai “retorika politik yang penuh kebencian”, terutama dari Trump. Bulan lalu, seorang pria Minnesota yang menyemprotkan cuka ke Omar dijatuhi hukuman 14 bulan penjara setelah mengaku bersalah menyerang seorang pejabat federal.
Pria itu bernama Anthony James Kazmierczak. Ia mengaku menyerang Omar karena tidak setuju dengan pandangan progresifnya.
(sef/sef)




