Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Bos IMF Serukan Bank Sentral Lebih Agresif Jinakkan Inflasi yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva meminta otoritas moneter di berbagai negara untuk lebih agresif dalam menjinakkan inflasi.
Ia menyebut, peperangan di Ukraina yang memasuki tahun kelima, perang di Teluk yang memasuki bulan kedelapan telah meningkatkan berbagai harga komoditas strategis dunia.
Menurut Kristalina, saat ini sudah terjadi peningkatan biaya energi akibat konflik dan perkembangan AI yang bakal terus mendorong inflasi ke level tinggi.
Bersamaan dengan itu, pupuk, makanan, dan input industri utama-dengan ketahanan pangan yang semakin berisiko akibat El Niño super tahun ini.
“Hal ini mendorong inflasi naik dan pertumbuhan turun,” ucap Kristalina dalam agenda Outlook For The Global Economy and Policy Priorities jelang Annual Meeting IMF-World Bank 2026, dikutip Kamis (8/10/2026).
Di banyak negara, inflasi yang telah melebihi target menurutnya menjadi masalah selama beberapa waktu-dalam kasus AS, selama lebih dari 5,5 tahun.
“Kita merasa nyaman dengan ekspektasi inflasi jangka panjang yang tetap terkendali, tetapi jangan lupakan fakta sederhana bahwa inflasi hanya terkendali sampai tidak lagi terkendali-seperti yang saya pelajari dengan susah payah dari hiperinflasi Bulgaria,” tegasnya.
Kristalina pun memperingatkan, ledakan pembangunan infrastruktur AI bersifat inflasi, guncangan di sektor energi dan pangan juga bersifat inflasi, tarif, pengeluaran pertahanan, dan utang publik yang tinggi dapat bersifat inflasi.
“Dan ingatan akan inflasi tinggi baru-baru ini masih segar,” paparnya.
Oleh sebab itu, ia menganggap sudah sewajarnya bank sentral berbagai negara saat ini mulai menerkapkan kebijakan moneter yang hati-hati sekaligus agresif.
“Sekarang mungkin waktu yang tepat untuk mengambil sikap yang hati-hati dan agak agresif dalam kebijakan moneter banyak negara,” katanya.
Kristalina menilai sangat tepat bahwa bank sentral AS, yaitu Federal Reserve (The Fed), bank sentral Eropa yakni European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan semuanya telah menaikkan suku bunga.
“Dan berbicara dengan tegas, dengan jalur suku bunga kebijakan pada masa mendatang yang disesuaikan dengan kondisi,” ujar Kristalina.
(arj/arj)




