Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai NATO Ternyata Tak Siap Perang, Ini Buktinya yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Perang Rusia-Ukraina memunculkan pertanyaan serius mengenai kesiapan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menghadapi konflik modern. Perubahan taktik dan teknologi yang berlangsung cepat membuat sejumlah sistem persenjataan serta doktrin militer aliansi berisiko tertinggal.
Lima pejabat pertahanan Ukraina dan Barat mengatakan kepada Reuters bahwa perkembangan di medan perang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan proses pengadaan senjata NATO yang dapat memakan waktu bertahun-tahun. Ukraina, yang bukan anggota NATO, bahkan disebut mampu beradaptasi dalam hitungan minggu dari pengalaman langsung menghadapi pasukan Rusia.
Denys Shtilerman, salah satu pemilik sekaligus kepala perancang perusahaan rudal dan drone Ukraina Fire Point, mengatakan drone murah kini mampu mengancam kendaraan lapis baja dengan biaya yang jauh lebih rendah. “Tank kini tidak ada gunanya karena drone sekitar US$5.000 (Rp88 juta) dapat menghancurkannya,” ujarnya kepada Reuters, dikutip Sabtu (19/9/2026).
Meski demikian, negara-negara Eropa masih mengalokasikan anggaran besar untuk tank yang oleh sejumlah analis militer tetap dinilai memiliki fungsi dalam pertempuran masa depan. Drone juga mengubah pola pergerakan pasukan karena kelompok besar dan konvoi kendaraan kini lebih mudah dideteksi serta diserang dari udara.
Komandan Garda Nasional Ukraina Oleksandr Pivnenko mengatakan pasukan NATO memiliki kemampuan dalam menyerbu posisi lawan, tetapi menghadapi persoalan ketika beroperasi di bawah ancaman drone. “Namun, jika ada drone di atas kepala dan Anda bahkan tidak menengadah, menurut Anda apa yang akan terjadi pada pasukan Anda?” katanya.
Kelemahan lain terlihat dalam pertahanan udara dan rudal. Serangan Rusia ke berbagai kota di Ukraina menunjukkan ketergantungan negara-negara Eropa pada sistem antirudal buatan AS seperti Patriot, sementara Ukraina sendiri menghadapi kekurangan rudal pencegat Patriot.
Eropa kemudian berupaya mengembangkan alternatif. Ukraina menantikan sistem pertahanan udara SAMP/T-NG buatan Prancis-Italia, sedangkan pada Juli Ukraina dan sembilan negara Eropa meluncurkan koalisi pertahanan udara untuk mengembangkan sistem antirudal balistik baru bernama Freyja.
Fire Point menjadi salah satu mitra utama dalam proyek tersebut. Shtilerman menekankan pentingnya kemampuan Eropa untuk memproduksi sendiri sistem pertahanan udara.
“Jika Anda menghabiskan US$20 miliar (sekitar Rp352 triliun) untuk sistem pertahanan udara, Anda harus mandiri dalam hal keamanan,” ujarnya.
(sef/sef)




