Publikpos.com – Berikut adalah informasi terbaru mengenai Tok! Bukan Iran, AS Resmi Setujui Nuklir Negara Arab Muslim Ini yang sedang hangat diperbincangkan.
Jakarta, – Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi mengumumkan kesepakatan bersejarah dengan Arab Saudi untuk membangun program nuklir sipil di negara Teluk tersebut. Langkah ini dicapai di tengah jaminan ketat dari Washington bahwa perjanjian tersebut mencakup perlindungan berlapis terhadap risiko non-proliferasi atau penyebaran senjata nuklir.
Departemen Energi AS mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini mencakup dua perjanjian utama, yakni kerja sama nuklir damai (peaceful nuclear cooperation) serta perlindungan bilateral (bilateral safeguards). Dokumen resmi tersebut ditandatangani langsung oleh Menteri Energi AS Chris Wright bersama Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman.
Perjanjian ini ditandatangani di bawah Pasal 123 Undang-Undang Energi Atom AS (US Atomic Energy Act), yang menjadi acuan bagi Washington dalam menjalin kerja sama nuklir dengan lebih dari 50 negara di dunia.
“Secara bersama-sama, kedua perjanjian ini meletakkan dasar hukum bagi kemitraan bernilai miliaran dolar selama berdekade-dekade yang memajukan beberapa tujuan prioritas ekonomi dan strategis, termasuk non-proliferasi nuklir,” tegas Departemen Energi AS dalam pernyataan resminya dikutip Reuters, Rabu (22/7/2926).
“Yakinlah, perjanjian ini menjunjung tinggi standar tertinggi keselamatan nuklir dan non-proliferasi, sembari mengandalkan teknologi dan ilmuwan nuklir terbaik dunia yang dirancang langsung di sini, di Amerika Serikat,” tambah Menteri Energi AS Chris Wright
Laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan terdapat klausul dalam kesepakatan yang berpotensi membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan AS untuk membangun fasilitas pengayaan uranium langsung di tanah Arab Saudi. Meski demikian, Departemen Energi AS tidak mencantumkan poin pengayaan uranium tersebut dalam rilis resminya dan memilih tidak memberikan komentar saat dikonfirmasi. Dokumen teks perjanjian lengkap juga belum dirilis ke publik.
Kesepakatan ini selanjutnya akan diserahkan ke Kongres AS untuk ditinjau. Kendati demikian, parlemen yang saat ini dikuasai oleh Partai Republik diperkirakan tidak akan menghambat implementasinya.
Ekspektasi Strategis Washington dan Penolakan Parlemen
Rencana pembangunan proyek nuklir sipil untuk Riyadh ini sejatinya telah lama memicu perdebatan sengit. Sejumlah anggota parlemen AS dari lintas partai (Demokrat dan Republik) bersama para pejabat Israel menyuarakan penolakan keras lantaran khawatir fasilitas nuklir sipil tersebut pada akhirnya berpotensi dialihfungsikan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Di sisi lain, Arab Saudi-sebagaimana Teheran-sejak lama bersikeras pada haknya untuk mengembangkan program nuklir sipil. Tahun lalu, Riyadh bahkan telah menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Pakistan yang merupakan negara pemilik senjata nuklir. Dalam beberapa tahun terakhir, Washington sejatinya berupaya mengaitkan kesepakatan nuklir ini ke dalam skenario strategis yang lebih luas, yakni dorongan normalisasi hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Israel yang disertai penandatanganan pakta pertahanan AS.
Di tingkat regional, AS sebelumnya pernah menandatangani perjanjian nuklir serupa dengan negara tetangga Arab Saudi, yakni Uni Emirat Arab (UEA) pada 2009, meski UEA tidak melakukan pengayaan uraniumnya sendiri. Fasilitas nuklir Barakah di UEA-satu-satunya di dunia Arab-sempat mengalami insiden kebakaran pada Mei lalu setelah sebuah drone menghantam bagian generator.
Eskalasi Perang Iran dan Perebutan Pengaruh Global
Pengumuman kesepakatan nuklir AS-Arab Saudi ini bergulir di tengah eskalasi perang terbuka antara Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump melawan Iran. Perang tersebut pecah yang salah satunya dipicu oleh kekhawatiran Washington terhadap program nuklir Teheran.
Para pembuat kebijakan sejak lama mengkhawatirkan bahwa keberhasilan Iran memproduksi senjata nuklir bakal memicu perlombaan senjata nuklir secara masif di sepanjang kawasan Teluk.
Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik tersebut, para pakar memberikan pandangan beragam atas manuver Washington. Matthew Kroenig dari Atlantic Council memperingatkan risiko besar jika Arab Saudi diizinkan memiliki kemampuan pengayaan uranium secara mandiri.
“Adalah sebuah kesalahan untuk memberi Arab Saudi kemampuan pengayaan. Washington benar dalam memperkuat hubungannya dengan Riyadh, namun hal itu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan standar non-proliferasi senjata nuklir yang efektif,” ujar Kroenig.
Sebaliknya, Direktur Inisiatif Kebijakan Energi Nuklir Atlantic Council, Jennifer T. Gordon, menyambut positif kesepakatan ini dan menilainya sebagai kemenangan diplomasi AS atas persaingan pengaruh dari Rusia dan China.
“Arab Saudi telah memperjelas bahwa mereka akan membeli teknologi energi nuklir dan memulai program nuklir sipil; satu-satunya pertanyaan adalah apakah kerajaan tersebut akan memilih untuk bekerja sama dengan AS dan sekutunya, atau apakah mereka akan berpaling ke Rusia atau China,” pungkas Gordon.
(tps/tps)
Add
as a preferred
source on Google




