Dampak Penyerangan Kilang Minyak Saudi Terbesar Sepanjang Sejarah

Publikpos.com – Penyerangan kilang minyak milik Arab Saudi oleh 10 pesawat tanpa awak (drone) menyebabkan produksi minyak Arab Saudi berkurang 5,7 juta barel per hari. Dampak ini dinilai sangat besar, mengingat obyek penyerangan merupakan 2 kilang minyak terbesar di dunia.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan dampak penyerangan ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah. Bahkan, lebih besar dari krisis minyak di 1979 atau guncangan minyak terjadi di dunia karena penurunan produksi minyak setelah Revolusi Iran, yang menyebabkan gangguan pasokan minyak hingga 5,6 juta barel per hari.

Tak hanya itu, penyerangan kilang minyak Arab Saudi juga lebih besar dari krisis minyak di 1973 ketika anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Arab (OPEC) mengumumkan embargo minyak. Sehingga mengganggu pasokan minyak sebesar 4,3 juta barel per hari.

“Dampak dari penyerangan minyak di Arab Saudi ini termasuk yang terbesar sepanjang sejarah. Bahkan lebih besar dari Revolusi Iran dan perang Arab dan Israel,” kata Andry di Bali, Sabtu (28/9).

Menurutnya, dampaknya tidak akan terlalu besar jika pemulihan terhadap kerusakan kilang minyak oleh Arab Saudi yang cepat, sehingga harga minyak akan kembali normal. Seperti diketahui, usai penyerangan tersebut, harga minyak dunia melonjak mencapai level tertinggi sejak Mei.

Selain itu, penyerangan pada kilang Saudi juga berdampak pada harga komoditas, namun hanya sementara karena faktor geopolitik. “Ada faktor Amerika Serikat juga di situ (penyerangan), di mana mereka juga punya kepentingan untuk menjaga tingkat inflasi domestiknya supaya suku bunganya bisa kembali turun. Jadi kalau misalnya ada supply shock (guncangan penawaran), kemungkinan mereka juga bisa menambah supply-nya,” imbuhnya.

Miliuner ini Makin Kaya Rp 28 T per Hari Karena Kilang Terbesar Dunia Diserang

Penyerangan kilang minyak terbesar milik Saudi Aramco pekan lalu membuat harga minyak naik tinggi. Dilaporkan, fasilitas minyak raksasa tersebut kehilangan setengah dari pasokan minyaknya.

Imbasnya, 5 persen pasokan minyak global hilang. Tak heran jika negara-negara yang masih menggantungkan kebutuhan minyak pada Arab, seperti India, Korea Selatan, China hingga Indonesia, kelimpungan.

Namun, laiknya setiap kejadian pasti ada sisi baik dan buruknya. Mengutip laman Financial Post, Rabu (18/9), miliarder ini justru makin kaya hingga USD 2 miliar alias Rp28 triliun (asumsi kurs Rp14.077) per harinya karena lonjakan harga minyak dunia.

Miliarder bernama Harold Hamm ini merupakan pengelola perusahaan minyak dan gas, Continental Resources Inc. Sejak insiden kemarin, saham perusahaannya melonjak hingga 22 persen pada perdagangan Senin (16/9/2019) lalu.

Dengan demikian, nilai kekayaan miliarder ini juga bertambah menjadi USD 11,6 miliar. Sebagai informasi, Hamm punya porsi kepemilikan saham di perusahaan hingga 77 persen.

Sementara, penyerangan terhadap kilang minyak Arab tersebut diduga dilakukan oleh kelompok Huthi dari Iran. Sekitar 10 unit drone yang meluluhkan kilang tersebut membuat harga minyak melonjak hingga 19 persen, tertinggi sejak 1991.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here