Dahsyatnya Kekuatan Publik Jika Bersatu Lewat Petisi

Publikpos.com – Demonstrasi atau petisi, mana yang lebih berpengaruh bagi pembuat kebijakan?

Jika pertanyaan itu diajukan beberapa tahun yang lalu, sebelum era internet dan media jejaring sosial berkembang pesat, demonstrasi adalah cara yang efektif untuk menekan pembuat kebijakan.

Namun sekarang jaman telah berubah. Tekanan publik melalui petisi lebih efektif daripada demonstrasi. Apalagi petisi melalui situs web petisi khusus, seperti Change.org.

Bukan pekerjaan mudah untuk mengumpulkan ribuan orang sekaligus, kemudian berdemonstrasi ke kantor pejabat untuk memprotes kebijakan tertentu. Belum tentu pejabat itu menerima para demonstran. Tuntutan para pemrotes belum tentu diterima, karena mereka dapat disortir atau disimpan oleh para pembantu pejabat.

Bisa jadi pejabat itu berada di luar kota atau di luar negeri, dan hari berikutnya ketika pejabat itu pergi ke kantor, ia disibukkan dengan masalah lain. Hanya ada kelelahan dan keringat dari para demonstran. Dan kemacetan lalu lintas.

Berbeda dengan petisi, melalui situs Change.org yang sejak 2012 membuka kantor perwakilan di Indonesia.

Mengumpulkan lima ribu hingga puluhan ribu tanda tangan untuk mendukung satu masalah bukanlah hal yang mustahil. Bahkan jutaan tanda tangan dukungan tidak terjadi satu atau dua kali untuk satu petisi.

Jutaan Tanda Tangan

Di Amerika, pada bulan Maret 2012, seseorang membuat petisi di Change.org. Judul “Silakan menghukum putra kami, Trayvon Martin, 17 tahun.” Petisi itu menuntut hakim menghukum George Zimmerman, seorang pengawas lingkungan sukarela di Florida yang menembak mati Trayvon Martin.

Pada bulan April, petisi ini didukung oleh lebih dari 2,2 juta tanda tangan. Pada saat itu menjadi petisi dengan jumlah tanda tangan terbesar dalam sejarah pembentukan Change.Org. Satu bulan kemudian, Zimmerman ditangkap atas dugaan pembunuhan tingkat dua. George Zimmerman saat ini sedang diadili dan persidangannya menerima perhatian publik yang luas di Amerika.

Di Jerman, seorang mahasiswa Jerman berusia 21 tahun, Philip Matesanz membuat petisi bahwa Google mengizinkan situs pihak ketiga atau perangkat lunak untuk mengonversi video Youtube ke audio MP3. Petisi diajukan setelah situs milik Philips menerima gugatan dari Google karena layanan tersebut. Petisi sejauh ini menerima dukungan lebih dari 4,3 juta orang dari berbagai belahan dunia. Tingkat dukungan saat ini adalah yang tertinggi dalam sejarah Change.org hingga saat ini.

Kemenangan

Di Indonesia, tidak ada petisi yang dukungannya mencapai jutaan tanda tangan. Meski begitu, ada banyak kemenangan dan keberhasilan yang dicapai dengan petisi Change.org.

Maret 2013 lalu, PT Garuda Indonesia mencabut persyaratan ‘Letter of Pain’ untuk para penyandang cacat yang ingin bepergian dengan pesawat. Salah satunya berkat petisi yang diajukan oleh Cucu Saidah, aktivis penyandang cacat yang menerima diskriminasi saat bepergian dengan maskapai. Petisi Cucu Saidah, dimenangkan dengan hanya 1.700 tanda tangan dukungan.

Pada Januari 2013, Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin Muhammad Daming Sunusi mengeluarkan pernyataan mengejutkan saat berpartisipasi dalam pemilihan hakim agung. Ketika ditanya tentang kesesuaian hukuman mati bagi pelaku pemerkosaan, Daming Sunusi menjawab, “Mereka yang diperkosa dengan mereka yang diperkosa sama-sama menikmati. Jadi, mereka harus memikirkan hukuman mati. “

Pernyataan itu memicu protes luar biasa. Seorang musisi yang juga seorang aktivis advokat wanita, Melanie Subono membuat petisi agar Dewan Perwakilan Rakyat tidak akan memilih Daming Sunusi sebagai hakim tertinggi. Tekanan publik luar biasa, dan akhirnya tidak ada anggota Komisi III DPR yang memilih Daming Sunusi. Petisi Melanie Subono menang dengan dukungan 11 ribu tanda tangan publik.

Banyak kemenangan lain diraih oleh publik. Meskipun mungkin juga terbantu oleh faktor tekanan lainnya. Misalnya penghapusan diskriminasi kasta di Rajasthan India yang sudah berlangsung puluhan tahun, atau memperbaiki jalan yang rusak di Jl Raya Muncul Serpong, Tangerang, dan sebagainya.

Masalah petisi tidak selalu berat. Di negara bagian Maine, Amerika Serikat, seorang remaja berusia 14 tahun bernama Julia Bluhm mengirim petisi ke majalah remaja Seventeen untuk tidak ‘membuat’ foto model remaja dengan perangkat lunak pengolah foto Photoshop. Pasalnya, foto yang sudah diproses akan mendorong remaja untuk tampil seperti yang ada di foto. “Ini bisa memicu masalah makan, gangguan pola makan, depresi, dan mengurangi rasa percaya diri.”

Petisi Julia menerima dukungan dari 86 ribu tanda tangan. Hasilnya, kemenangan. “Mereka (editor Seventin) mengatakan bahwa mereka tidak akan menggunakan Photoshop untuk membuat gambar model. Ini adalah kemenangan besar, dan saya sangat senang,” tulis Julia kepada para pendukungnya. Selanjutnya, target petisi akan ditujukan ke majalah pemuda lainnya.

Tindakan Melalui Email

Situs petisi Change.org telah menjadi gerakan baru untuk revolusi sosial. Protes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here