‘Buzzer Kerap Manipulasi Fakta Bisa Pecah Belah Rakyat’

3 views

Publikpos.com – Keberadaan buzzers atau buzzers di era media sosial (media sosial) tidak bisa diabaikan. Tentu saja Anda perlu diingatkan agar buzzers memiliki etika dalam menyebarkan berita atau opini kepada publik.

“Jika buzzer memanipulasi opini publik, memanipulasi fakta, maka itu salah. Jika itu terjadi, tentu saja buzzer harus dihilangkan karena tidak hanya membahayakan negara, tetapi dapat memecah belah masyarakat,” kata pendiri lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio. keterangannya, Rabu (9/10).

Yang paling menakutkan, lanjut Hendri, jika kemudian bel itu dianggap sebagai salah satu pengemudi untuk membenci kelompok lain.

“Menurut saya, buzzer seperti itu harus dihilangkan. Itu mudah bagi pemerintah. Seharusnya bisa, paling tidak segera diputar untuk buzzer dan mengajak semua pihak untuk tidak menggunakan buzzer untuk kegiatan negatif,” katanya.

Hendri menilai, keberadaan buzzer ini harus dibedakan dari media sosial. Sisi lebih positif dari media sosial. Paling jelas dengan keberadaan media sosial siapa pun dapat berdebat tanpa harus menunggu media konvensional seperti televisi, radio, dan surat kabar yang memuat pemikiran orang lain.

Selain itu, dengan media sosial, orang bisa lebih ada untuk mengeluarkan pendapat. Tetapi, menurut dosen Komunikasi Politik Universitas Paramadina ini, masalahnya adalah bahwa banyak orang tidak benar-benar menyuarakan pendapat mereka di media sosial, tetapi hanya membaca pendapat orang lain. Dengan adanya pendapat orang lain di media sosial, maka media sosial dianggap sebagai wahana yang bisa mengatur pendapat orang lain.

Hendri melanjutkan, karena fenomena itu kemudian digunakan oleh orang-orang yang menggunakan media sosial untuk minat mereka menggunakan buzzers. “Jadi apa? Agar lebih banyak orang memiliki pendapat yang sama dengannya. Jadi ini untuk mempengaruhi pendapat orang lain,” kata Hendri.

Hendri menilai, sejauh pengamatannya, keberadaan buzzer sangat efektif untuk propaganda. Karena, rata-rata buzzer memiliki banyak pengikut. Itulah yang membuat bel sangat diminati, tidak hanya dalam agenda politik, tetapi juga untuk mempromosikan sesuatu.

Sebenarnya, kata Hendri, keberadaan bel itu mudah dikenali. Cara mereka harus memimpin pendapat yang sama, masalah yang sama, meskipun caranya berbeda. Untuk alasan ini, ia mengimbau di tengah kondisi negara yang tidak stabil setelah pemilu, para peserta harus menggunakan hati nurani mereka untuk menjaga perdamaian dan integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Gunakan bel ini untuk kebaikan. Jangan menggunakannya untuk hal-hal yang benar-benar mengubah fakta yang pada akhirnya dapat menghancurkan negara ini,” pungkasnya. [mdk]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here