2.464 Smartphone Selundupan di Bandara Soetta Dimusnahkan dengan Direndam Air Garam

1 views

Publikpos.com – 2.464 unit smartphone diselundupkan, berbagai merek dihancurkan oleh kantor Bea dan Cukai di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (8/10). Penghancuran barang bukti selundupan seluler senilai Rp 3,5 miliar dilakukan dengan merendamnya dalam air garam.

Kepala Bea dan Cukai di Bandara Soetta Erwin Situmorang menjelaskan, ribuan ponsel yang dihancurkan sebagian besar berasal dari Hong Kong dan Singapura.

“Sebagian besar ponsel cerdas atau ponsel bermerek Xiaomi, hingga 1.600 unit. Selebihnya didistribusikan secara merata, ada ponsel terbaru, seperti 27 unit iPhone XS, 266 iPhone X, 225 iPhone 8+, 54 iPhone 8 , 72 iPhone 7, 26 replika Samsung 9+, dan 194 unit berbagai gadget dengan tipe dan kondisi, “kata Erwin.

Dia menjelaskan, ponsel yang diselundupkan dari luar negeri, umumnya diimpor oleh penumpang.

“Metodenya bervariasi, tetapi mayoritas diangkut oleh penumpang dengan koper. Jadi isinya sangat banyak, lebih dari 2 unit, tidak boleh sesuai aturan yang ada,” katanya.

Menurut Erwin, dalam aturan dan ketentuan untuk membeli ponsel dari luar negeri, masyarakat hanya diperbolehkan membawa ponsel untuk penggunaan pribadi. Itupun, tidak lebih dari 500 dolar AS.

“Di atas itu akan dikenakan biaya atau bea masuk atas barang mewah,” jelas Erwin.

Kemudian, gadget yang disita dilaporkan ke Kementerian Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informasi, dan Kementerian Perdagangan.

“Untuk mendapatkan rekomendasi, apakah itu harus dihancurkan, dibuat atau dilelang. Kemudian rekomendasi keluar dihancurkan,” kata Erwin.

Selanjutnya, Bandara Soetta Bea dan Cukai segera berkoordinasi dan berdiskusi dengan pemasok merek resmi Samsung, bagaimana cara yang baik untuk menghancurkan berbagai smartphone yang nantinya akan menyebabkan pemborosan tersebut.

“Karena ini (gadget) memiliki teknologi baterai yang mengakar, cara paling aman adalah merendamnya semalam di air garam. Setelah itu, itu akan ditumbuk dengan alat berat,” kata Erwin.

Sementara itu, Mr Lee, seorang utusan dari Samsung Indonesia, mengakui bahwa saat ini praktik pasar gelap atau BM di Indonesia, terutama di kota-kota besar, telah menurun secara signifikan.

“Bahkan teman saya membawa 2 hingga 3 ponsel, disita. Meskipun dia membelinya secara resmi di luar negeri, kami menghargainya,” katanya.

Padahal pada 1999 hingga 2001 atau ketika Samsung pertama kali masuk ke Indonesia, praktik BM sudah marak. Dia mengakui bahwa dia sering berpartisipasi dalam penggerebekan, sehingga latihan mulai diminimalkan di sini.

“Karena, itu sangat merugikan bagi produsen resmi seperti kita. Belum lagi untuk Indonesia, pajaknya menguap atau bahkan hilang,” katanya. [mdk]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here